Minggu, 28 Mei 2017

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

PENGERTIAN
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang dari istilah penelitian tindakan (action research) (Sanjaya, hal. 24). Oleh karena itu, untuk memahami pengertian PTK perlu ditelusuri pengertian penelitian tindakan terlebih dahulu. Penelitian tindakan mulai berkembang di Amerika dan berbagai negara di Eropa, khususnya dikembangkan oleh mereka yang bergerak di bidang ilmu sosial dan humaniora (Basrowi & Suwandi, hal. 24-25). Orang-orang yang bergerak di bidang itu dituntut untuk terjun mempraktikkan suatu tindakan atau perlakuan di lapangan. Mereka berarti langsung mempraktikkan tindakan yang telah direncanakan dan mengukur kelayakan tindakan yang diberikan tersebut. Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka (Sanjaya, hal. 24). Dalam hal ini, penelitian tindakan memiliki kawasan yang lebih luas daripada PTK. Penelitian tindakan diterapkan di berbagai bidang ilmu di luar pendidikan, misalnya dalam kegiatan praktik bidang kedokteran, manajemen, dan industri (Basrowi & Suwandi, hal. 25). Bila penelitian tindakan yang berkaitan pada bidang pendidikan dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas, maka penelitian tindakan tindakan ini disebut PTK.

TUJUAN PTK
Tujuan PTK adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah (Muslich, hal. 10). Menurut Suyanto (1997), tujuan PTK adalah meningkatkan dan/atau memperbaiki praktik pembelajaran di sekolah, meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan (Basrowi & Suwandi, hal. 54)

PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PTK bukan hanya bertujuan mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan siswa dalam mempelajari pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Atas dasar itu, terdapat tiga hal penting dalam pelaksanaan PTK yakni sebagai berikut.
(1)    PTK adalah penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan.
(2)    Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran, evaluasi) dilakukan berdasar- kan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
(3)    Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran).
Pembahasan berikutnya akan menguraikan prosedur pelaksanaan PTK yang meliputi penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelak- sanaan tindakan yang diikuti dengan kegiatan observasi, interpretasi, dan analisis, serta refleksi. Apabila diperlukan, pata tahap selanjutnya disusun rencana tinda lanjut. Upaya tersebut dilakukan secara berdaur membentuk suatu siklus. Langkah-langkah pokok yang ditempuh pada siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya adalah sebagai berikut.
(1)     Penetapan fokus permasalahan
(2)     Perencanaan tindakan
(3)     Pelaksanaan tindakan
(4)     Pengumpulan data (pengamatan/observasi)
(5)     Refleksi (analisis, dan interpretasi)
(6)     Perencanaan tindak lanjut.
Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri atas empat kegiatan. Apabila sudah diketahui keberhasilan atau hambatan dalam tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahan baru untuk menentukan rancangan siklus berikutnya. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan, atau untuk menguatkan hasil. Tetapi pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus sebelumnya.
Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, peneliti dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan peneliti belum merasa puas, dapat dilanjutkan pada siklus ketiga, yang tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus.

  
Problem:
berikan pendapatmu jika ptk diterapkan d sekolah terutama pada pelajaran kimia, apa inovasi ptk yang kamu lakukan?

Minggu, 14 Mei 2017

Diagnosis dan Tindakan Klinis Mengatasi Kesulitan Siswa Yang Malas Belajar Kimia




A. Belajar
1. Pengertian Belajar
Menurut Slameto (1995:2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu.

B. Kesulitan Belajar
1. Pengertian Kesulitan
dalam Belajar Kesulitan belajar adalah kondisi proses belajar yang ditandai hambatanhambatan tertentu untuk mencapai hail belajar (Ahmadi,1990:68). Kesulitan dalam belajar adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar Menurut Slameto (2003 : 54), faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar ada dua, yaitu :
a. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar. Faktor intern dibagi menjadi beberapa faktor, yaitu :
1) Jasmani, yang terdiri dari faktor :
a) cacat tubuh atau adanya susunan saraf yang tidak berkembang secara sempurna.
b) Mempunyai penyakit yang sifatnya menahun yang dapat menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.
c) Kelemahan pada unsur pancaindera (misalnya mata/telinga yang tidak sempurna/cacat) yang dapat mengganggu interaksi dalam proses pembelajaran.
2) Psikologis dan mental, yang terdiri dari faktor:
a) inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
b) Tingkat kecerdasan rendah.
c) Aktivitas yang tidak terarah,kurang semangat,kurang menguasai ketrampilan.
3) Emosional dan kebiasaan sikap yang salah, terdiri dari faktor :
a) Terdapatnya rasa tidak aman (insecurity).
b) Penyesuaian yang salah terhadap orang – orang.
c) Kurang menaruh minat terhadap pekerjaan sekolah.
d) Malas dan tidak mau belajar.
e) Sering tidak mengkuti pelajaran (bolos).
f) Banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang aktivitas sekolah.

b. Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Fak. ekstern dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu :
a. Faktor Keluarga, yang meliputi: 1) cara orang tua mendidik 2) relasi antara anggota keluarga 3) suasana rumah 4) keadaan ekonomi keluarga, 5) pengertian orang tua latar 6) besar kecilnya anggota keluarga 7) Tradisi dan kultur keluarga 8) Ketrentaman dan keamanan sosio-psikologis.
b. Faktor Sekolah, yang meliputi: 1) Kelemahan dari sistem belajar mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan. 2) Kurikulum yang seragam, buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan individu. 3) Relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa. 4) Terlalu sering pindah sekolah atau tinggal kelas. 5) Terlalu berat beban belajar (siswa) dan atau mengjar (guru). 6) Ketidaksesuaian sistem pengajaran 7) Terlalu besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan diluar. 8) disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c. Masyarakat, yang meliputi: 1) kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. 2) Pengaruh kelompok pergaulan yang tidak edukatif dan merusak moral siswa. 3. Klasifikasi kesulitan belajar Kesulitan belajar merupakan kelompok kesulitan yang heterogen, sehingga sulit untuk diklasifikasikan secara spesifik.
Namun demikian, pengklasifikasian itu diperlukan dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Kirk dan Gallagher (1989 : 187) menjelaskan bahwa kesulitan belajar dibedakan dalam kategori besar, yaitu : a. kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities). b. Kesulitan belajar akademik
4. Karakteristik Siswa Berkesulitan Belajar Seperti telah dijelaskan, murid yang mengalami kesulitan belajar itu memiliki hambatan-hambatan, sehingga menampakkan gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain (guru, pembimbing). Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar. Misalnya:
a. Menunujukkan prestasi rendah yang dicapai oleh kelompok kelas,
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah,
c. Lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam semua hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal dalam menyelesaikan tugas-tugas,
d. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti: acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain,
e. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan,
f. Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah,
g. Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.



Problem  :
Menurut teman teman bagaimana cara yang ampuh dilakukan agar siswa kembali semangat dalam belajar kimia,dan menjadi kan kimia pelajaran favorit?  ^^






Kamis, 04 Mei 2017





TEKNIK-TEKNIK MEMBELAJARKAN MATERI KIMIA

PADA FASE PENDAHULUAN DAN FASE PENUTUP



Guru harus mempunyai beberapa ketrampilan bagaimana cara membuka dan menutup pelajaran agar nantinya suasana kelas mampu berjalan dengan baik.

Membuka Pelajaran (set induction) adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pengajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengalaman yang disajikan sehingga materi dan bahan pelajaran mudah dikuasai. Dengan kata lain, membuka pelajaran itu adalah mempersiapkan mental dan perhatian siswa agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. 




Dalam otak setiap siswa itu sudah tersedia file - file sesuai dengan pengalaman masing-masing. Suatu materi pelajaran baru akan mudah diterima di otak kita, manakala sudah tersedia kapling yang relevan. Demikian juga sebaliknya, materi pelajaran baru tidak mungkin mudah dicerna manakala behan tersedia File yang relevan. Sama halnya dengan kerja sebuah komputer, kita akan sulit memasukkan data seandainya belum tersedia filenya. Oleh sebab itu agar data itu masuk dan dapat disimpan dahulu perlu disiapkan filenya. Misalnya teori tentang pesawat terbang, akan sulit diterima manakala diberikan kepada mahasiswa yang belum mengenal teori tersebut, oleh karena di otak mahasiswa itu belum tersedia file tentang teori pesawat terbang. Nah, bagaimana agar materi itu mudah diterima? Tentu saja kita harus membuat file (kapling) tentang hal-hal yang berhubungan dengan pesawat terbang. lnitah makna dari membuka pelajaran.

Tujuan dan Teknik Membuka Pelajaran 
Ada kewajiban disini yang kadang dilupakan oleh seorang guru yaitu berdoa sebelum membuka pelajaran. Berdoa adalah awalan yang wajib dilakukan agar system pelajaran dalam kelas berjalan lancar.  Dilanjutkan dengan salam kemudian menyampaikan apa kabar kepada seluruh murid atau anggota kelas. Motivasi siswa yang terpancar dari awal merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Jangan membuat tegang murid adapun jika ingin menyampaikan pertannyaan susunlah sebelumnya sebuah pertanyaan yang ringan-ringan saja. sebab rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran. pada tahap ini, guru harus mampu menumbuhkan motivasi yang baik di didalam kelas.
1. Menarik perhatian siswa, yang dapat dilakukan dengan : 
§     Meyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk siswa 
§     Melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa misalnya dengan menggunakan alat bantu 
§     Melakukan interaksi yang menyenangkan 

2. Menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan 
§     Membangun suasana alcrab sehingga siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomunikasi secara kekeluargaan. 
§     Menimbulkan rasa ingin tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan. 
§     Mengaitkan materi yang akan dibicarakan atau pengalaman belajar yang akan dilakukan dengan kebutuhan siswa. 
3. Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pengajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan: 
§     Mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan. 
§     Menjelaskan langah-langkah atau tahapan pengajaran, sehingga siswa memahami apa yang harus dilakukan. 
§     Menjelaskan target atau kemampuan yang harus dirniliki setelah pengajaran berlangsung. 

4. Faktor penting lainnya :
§     Mengaitkan Pelajaran dalam kehidupan sehari-hari : Guru selalu berusaha mengaitkan isi materi pelajaran dengan kehidupan sehari - hari siswa, tentu hal ini akan membuat pembelajaran lebih konkrit dan hidup, sehingga mempermudah pemahaman siswa
§     Memberikan Pujian : Memberikan pujian kepada murid juga dapat membangkitkan motivasi murid. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
§     Menampakan Mimik wajah yang ramah : Mimik wajah yang ramah dan tidak cemberut atau tidak memalingkan muka kepada murid menjadi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru agar murid merasa lebih lega dan tidak merasa canggung serta membagkitkan suasana kelas yan lebih menyenangkan.Memahami kapabilitas murid : Salah satu yang menjadi tantangan seorang guru adalah membantu siswa memahami relevansi atau aplikasi praktis dari tugas - tugas pembelajaran yang diberikan. Selain itu yang tidak kalah penting adalah bahwa tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan kapabilitas mereka. Jika tugas yang diberikan terlalu sulit atau terlalu mudah, mereka mungkin meakan menghindarinya karena mereka bias saja dibuat pusing atau justru bosan (Pintrich & Schunk, 2002)
§     Faktor kebersamaan : Peran penting guru yang lain adalah meyakinkan pada siswa bahwa kita terlibat bersama mereka disetiap tantangan dan berada “dalam sudut mereka” disetiap saat. Hal ini tentu saja membutuhkan strategi strategi organisasional dan personal yang fokus pada nilai dan kekuatan motivasi intrinsik dan dampak positifnya pada prestasi akademik siswa.

Sebagaimana cara kerja komputer, manakala kila sudah memasukan data dalam sebuah file, maka sebelum mengakhiri pekerjaan kita harus menyimpan dengan cara menyimpan data tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar data tersebut akan menjadi bagian dari materi yang telah ada sebelumnya. Demikian juga halnya dengan menutup pelajaran. Menutup pelajaran perlu dilakukan agar pengalaman belajar serta materi pelajaran yang telah diterima akan menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman siswa. Menutup pelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya denuan pengalaman sebelumnya mengetahui tingkat keberhasilan siswa, serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pengajaran.
§     Merangkum atau membuat garis-garis besar persoalan yang baru dibahas, sehingga siswa memperolch gambaran yang menyeluruh dan jelas tentang pokok-pokok persoalan. 
§     Mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok agar infomiasi yang telah diterima dapat membangkitkan minat untuk mempelajari lebih lanjut. 
§     Mengorganisasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk membentuk pemahaman baru tentang materi yang telah dipelajarinya 
§     Memberikan tindak lanjut serta saran-saran untuk memperluas wawasan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah dibahas.
§     Menutup dengan salam dan do'a.



Problem :

Bagaimana menurut teman-teman , teknik membuka pelajaran seperti apa yang dapat membuat siswa termotivasi dan semangat mengikuti pelajaran di kelas, 
juga teknik menutup pelajaran seperti apa , sehingga membuat anak atau peserta didik ingin lagi belajar, atau pelajaran yang disampaikan hari itu terkesan bermakna?


Minggu, 23 April 2017


Kesulitan Guru dalam
membelajarkan Kimia



A.    Masalah-Masalah dalam Proses Belajar Mengajar
1.      Definisi Masalah Belajar
Banyak ahli mengemukakan pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1965) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain. Ingin atau perlu dihilangkan. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Anita E., Woo Folk (1995) mengemukakan belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa “Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Dari definisi masalah dan belajar, maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut:
“Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.[1]
a.       Masalah-Masalah internal belajar
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Aktivitas belajar dialami oleh siswa sebagai suatu proses yaitu proses belajar sesuatu. Aktivitas belajar tersebut juga dapat diketahui oleh guru dari perlakukan siswa terhadap bahan belajar.
Proses belajar merupakan hal yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah. Masalah intern belajar juga siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak belajar dengan baik. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh para proses belajar siswa.[2]


1)      Faktor Jasmaniah
a.       Faktor kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya/ bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin.
b.      Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar.
2)      Faktor Psikologis
a.       Inteligensi
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Dalam situasi yang sama, siswa yang berintelegensi tinggi akan lebih berhasil daripada mereka yang berintelegensi rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik. Jika siswa memiliki inteligensi yang rendah, ia perlu mendapat pendidikan di lembaga pendidikan khusus.
b.      Perhatian
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, sebab jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian bagi siswa, maka timbullah kebosanan sehingga ia tidak lagi suka untuk belajar. Pemusatan perhatian tentu supaya tujuan pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.
c.       Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati, seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik bagiannya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa menambah kegiatan belajar.
d.      Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Orang yang berbakat mengetik. Misalnya akan lebih cepat dapat mengetik dengan lancar dibandingkan dengan orang yang kurang atau tidak berbakat dibidang itu.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakat, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu.
e.       Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak/ pendorongnya.
Dalam proses belajar mengajar haruslah diperhatikan apa yang mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik/perhatian, mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/ menunjang belajar.
f.       Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang. Dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang).[3]
g.      Rasa percaya diri siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengajuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Semakin siswa sering mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan merasa lemah percaya dirinya.
h.      Kebiasaan belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampuannya dalam berlatih dan menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergensi, datang terlambat bergaya pemimpin. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakpengertian siswa dengan arti belajar bagi diri sendiri.[4]
3)      Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan kebiasaan, sehingga minat dan timbul kecenderungan untuk membaringkat tubuh.
Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah itak kehabisan daya untuk bekerja.[5]
b.      Faktor-Faktor Ekstern Belajar
Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi tambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan faktor ekstern belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar. Faktor-faktor ekstern tersebut adalah sebagai berikut:

1)      Guru sebagai pembina siswa belajar
Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang study tertentu. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan hidup sebagai manusia. Dengan penghasilan yang diterimanya setiap bulan ia dituntut berkemampuan hidup layak sebagai seorang pribadi guru. Tuntutan hidup layak tersebut sesuai dengan wilayah tempat tinggal dan tugasnya. Guru juga menumbuhkan diri secara profesional. Ia bekerja dan bertugas mempelajari profesi guru sepanjang hayat. Mengatasi masalah-masalah keutuhan secara pribadi, dan pertumbuhan profesi sebagai guru merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Kemampuan mengatasi kedua masalah tersebut merupakan keberhasilan guru membelajarkan seorang siswa.
2)      Prasarana dan sarana pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lainnya. Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa lengkapnya prasarana dan sarana menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar yang baik. Justru disinilah timbul masalah-masalah bagaimana mengelola prasarana dan sarana pembelajaran sehingga terselenggara proses belajar yang berhasil baik.
3)      Kebijakan Penilaian
Kebijakan penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut, proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian pelaku aktif dalam belajar dalam siswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar atau proses pembelajaran. Pelaku aktif pembelajaran adalah guru. Dengan demikian, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi, dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat pra belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognotif, efektif dan psikomotor. Hasil belajar dinilai dari ukuran-ukuran guru, tingkat sekolah dan tingkat nasional. Jika digolongkan lulus maka dapat dikatakan proses belajar siswa dan tindak mengajar guru berhenti sementara. Jika digolongkan tidak lulus, terjadilah proses belajar ulang bagi siswa dan mengajar ulang bagi guru.[6]

4)      Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu, jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum  yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar.
5)      Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Akibatnya siswa malas atau kurang semangat dalam proses belajar.[7]
c.       Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
Pada garis besar nya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:
1)      Faktor-faktor internal, antara lain:
a)      Fisiologis
b)      Psikologis
2)      Faktor eksternal
1)      Sekolah
2)      Lingkungan.[8]

2.      Masalah-Masalah Mengajar
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator. Oleh karena itu, pengajaran minimal harus dipandang sebagai suatu proses sistematis dalam merencanakan, mendesain, mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan pembelajaran secara efektif dalam jangka waktu yang layak.[9]
Seorang desainer yang terampil, pada kenyataannya memiliki perencanaan yang baik. Suatu strategi maupun seperangkat prinsip-prinsip dan teknik-teknik yang digunakan bila diperlukan. Konsekuensinya desainer tidak akan memperbaiki proses desain sistem begitu saja, seolah-olah hanya terdapat satu pendekatan satu saja untuk hal tersebut. Walaupun demikian kemampuan mendesain itu hanya dimiliki setelah seorang mempunyai pengalaman di dalam mendesain bermacam-macam sistem belajar.
Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1)      Masalah pengarahan
Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a.       Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b.      Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa.
c.       Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d.      Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e.       Merumuskan tujuan instruksional jelas.
Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2)      Masalah evaluasi dan penilaian
Guru dalam tugasnya untuk merencanakan, melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a)      Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b)      Prosedur evaluasi tidak jelas
c)      Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d)     Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e)      Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f)       Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.
3)      Masalah isi dan urut-urutan pelajaran
Dalam membuat perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai berikut:
a.       Guru kurang menguasai materi
b.      Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c.       Materi yang diberikan sangat luas
d.      Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e.       Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f.       Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikannya.
g.      Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang diberikan.
4)      Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran
Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a.       Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b.      Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c.       Kurang terampil dalam menggunakan metode
d.      Sangat terikat pada satu metode saja
e.       Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5)      Masalah hambatan-hambatan
Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:
a.       Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b.      Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c.       Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d.      Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e.       Keadaan sarana yang kurang
f.       Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah


Problem :
Apa hal yang dapat dilakukan agar kesulitan dalam membelajarkan kimia ke peserta didik dapat dilakukan dengan baik, kita ketahui materi' kimia ini sangat abstrak?