Kesulitan Guru dalam
membelajarkan Kimia
A. Masalah-Masalah dalam Proses Belajar
Mengajar
1. Definisi Masalah Belajar
Banyak ahli
mengemukakan pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai
ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Ada yang melihat sebagai tidak
terpenuhinya kebutuhan seseorang dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu
hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1965) mengemukakan bahwa masalah adalah
sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan
atau orang lain. Ingin atau perlu dihilangkan. Pengertian belajar dapat
didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Anita E., Woo Folk (1995) mengemukakan belajar adalah proses perubahan
pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi
melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Gagne
(1984: 77) bahwa “Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah
perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Dari definisi masalah dan belajar, maka
masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut:
“Masalah
belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat
kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan
dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga
berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.[1]
a. Masalah-Masalah internal belajar
Dalam interaksi
belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses
belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan
dengan bahan belajar. Aktivitas belajar dialami oleh siswa sebagai suatu proses
yaitu proses belajar sesuatu. Aktivitas belajar tersebut juga dapat diketahui
oleh guru dari perlakukan siswa terhadap bahan belajar.
Proses belajar
merupakan hal yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak
belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah. Masalah intern
belajar juga siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak belajar
dengan baik. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang
berpengaruh para proses belajar siswa.[2]
1) Faktor Jasmaniah
a. Faktor kesehatan
Sehat berarti
dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya/ bebas dari penyakit.
Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh
terhadap belajarnya.
Agar seseorang
dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap
terjamin.
b. Cacat Tubuh
Cacat tubuh
adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh
atau badan. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar.
2) Faktor Psikologis
a. Inteligensi
Intelegensi
besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Dalam situasi yang sama,
siswa yang berintelegensi tinggi akan lebih berhasil daripada mereka yang
berintelegensi rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat inteligensi
yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena
belajar adalah proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya,
siswa yang mempunyai tingkat inteligensi normal dapat berhasil dengan baik
dalam belajar, jika ia belajar dengan baik. Jika siswa memiliki inteligensi
yang rendah, ia perlu mendapat pendidikan di lembaga pendidikan khusus.
b. Perhatian
Untuk dapat
menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap
bahan yang dipelajarinya, sebab jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian
bagi siswa, maka timbullah kebosanan sehingga ia tidak lagi suka untuk belajar.
Pemusatan perhatian tentu supaya tujuan pada isi bahan belajar maupun proses
memperolehnya.
c. Minat
Minat adalah
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.
Kegiatan yang diminati, seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai
dengan rasa senang.
Minat besar
pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak
sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya,
karena tidak ada daya tarik bagiannya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak
memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat
siswa menambah kegiatan belajar.
d. Bakat
Bakat adalah
kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan
yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Orang yang berbakat mengetik.
Misalnya akan lebih cepat dapat mengetik dengan lancar dibandingkan dengan
orang yang kurang atau tidak berbakat dibidang itu.
Dari uraian di
atas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang
dipelajari siswa sesuai dengan bakat, maka hasil belajarnya lebih baik karena
ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya
itu.
e. Motif
Motif erat
sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan
itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu
berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri
sebagai daya penggerak/ pendorongnya.
Dalam proses
belajar mengajar haruslah diperhatikan apa yang mendorong siswa agar dapat
belajar dengan baik/perhatian, mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan
perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/ menunjang
belajar.
f. Kematangan
Kematangan
adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang. Dimana alat-alat
tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Anak yang sudah siap
(matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan
lebih berhasil jika anak sudah siap (matang).[3]
g. Rasa percaya diri siswa
Rasa percaya
diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi
perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengajuan dari
lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap
pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa.
Semakin siswa sering mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya
dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan
merasa lemah percaya dirinya.
h. Kebiasaan belajar
Kebiasaan-kebiasaan
belajar siswa akan mempengaruhi kemampuannya dalam berlatih dan menguasai
materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa
belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan
belajar, bersekolah hanya untuk bergensi, datang terlambat bergaya pemimpin.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakpengertian siswa dengan
arti belajar bagi diri sendiri.[4]
3) Faktor Kelelahan
Kelelahan pada
seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
Kelelahan
jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan kebiasaan, sehingga minat
dan timbul kecenderungan untuk membaringkat tubuh.
Kelelahan
rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan
dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada
bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi,
seolah-olah itak kehabisan daya untuk bekerja.[5]
b. Faktor-Faktor Ekstern Belajar
Proses belajar
didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat
terjadi, atau menjadi tambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan
kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun
dengan baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah
merupakan faktor ekstern belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan
beberapa faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar. Faktor-faktor
ekstern tersebut adalah sebagai berikut:
1) Guru sebagai pembina siswa belajar
Guru adalah
pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan
keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang
mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi
bidang study tertentu. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan
pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan hidup sebagai
manusia. Dengan penghasilan yang diterimanya setiap bulan ia dituntut
berkemampuan hidup layak sebagai seorang pribadi guru. Tuntutan hidup layak
tersebut sesuai dengan wilayah tempat tinggal dan tugasnya. Guru juga
menumbuhkan diri secara profesional. Ia bekerja dan bertugas mempelajari
profesi guru sepanjang hayat. Mengatasi masalah-masalah keutuhan secara pribadi,
dan pertumbuhan profesi sebagai guru merupakan pekerjaan sepanjang hayat.
Kemampuan mengatasi kedua masalah tersebut merupakan keberhasilan guru
membelajarkan seorang siswa.
2) Prasarana dan sarana pembelajaran
Prasarana
pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang
ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi
buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan
berbagai media pengajaran yang lainnya. Lengkapnya prasarana dan sarana
pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal itu tidak berarti
bahwa lengkapnya prasarana dan sarana menentukan jaminan terselenggaranya
proses belajar yang baik. Justru disinilah timbul masalah-masalah bagaimana
mengelola prasarana dan sarana pembelajaran sehingga terselenggara proses
belajar yang berhasil baik.
3) Kebijakan Penilaian
Kebijakan
penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa
atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut,
proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian pelaku aktif
dalam belajar dalam siswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar
atau proses pembelajaran. Pelaku aktif pembelajaran adalah guru. Dengan
demikian, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi, dari
sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik
bila dibandingkan pada saat pra belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut
terwujud pada jenis-jenis ranah kognotif, efektif dan psikomotor. Hasil belajar
dinilai dari ukuran-ukuran guru, tingkat sekolah dan tingkat nasional. Jika
digolongkan lulus maka dapat dikatakan proses belajar siswa dan tindak mengajar
guru berhenti sementara. Jika digolongkan tidak lulus, terjadilah proses
belajar ulang bagi siswa dan mengajar ulang bagi guru.[6]
4) Kurikulum
Kurikulum
diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu
sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai
dan mengembangkan bahan pelajaran itu, jelaslah bahan pelajaran itu
mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh
tidak baik terhadap belajar.
5) Metode Mengajar
Metode mengajar
adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar
guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula.
Akibatnya siswa malas atau kurang semangat dalam proses belajar.[7]
c. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah
Belajar
Pada garis
besar nya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan
ke dalam dua kategori, yaitu:
1) Faktor-faktor internal, antara lain:
a) Fisiologis
b) Psikologis
2) Faktor eksternal
1) Sekolah
2. Masalah-Masalah Mengajar
Mengajar
sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi
harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat
membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang
berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi
sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman
dan motivator. Oleh karena itu, pengajaran minimal harus dipandang sebagai
suatu proses sistematis dalam merencanakan, mendesain, mempersiapkan,
melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan pembelajaran secara efektif
dalam jangka waktu yang layak.[9]
Seorang
desainer yang terampil, pada kenyataannya memiliki perencanaan yang baik. Suatu
strategi maupun seperangkat prinsip-prinsip dan teknik-teknik yang digunakan
bila diperlukan. Konsekuensinya desainer tidak akan memperbaiki proses desain
sistem begitu saja, seolah-olah hanya terdapat satu pendekatan satu saja untuk
hal tersebut. Walaupun demikian kemampuan mendesain itu hanya dimiliki setelah
seorang mempunyai pengalaman di dalam mendesain bermacam-macam sistem belajar.
Berdasarkan
pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan
pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1) Masalah pengarahan
Di waktu
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan
guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a. Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b. Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada
siswa.
c. Memahami cara merumuskan tujuan umum dan
khusus.
d. Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan
kemampuan dan kebutuhan siswa.
e. Merumuskan tujuan instruksional jelas.
Keadaan ini
mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka
tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan
pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna
bagi kehidupannya di kemudian hari.
2) Masalah evaluasi dan penilaian
Guru dalam
tugasnya untuk merencanakan, melaksanakan evaluasi dan menemukan
masalah-masalah sebagai berikut:
a) Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan
tidak jelas
b) Prosedur evaluasi tidak jelas
c) Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip
evaluasi yang efisien dan efektif.
d) Kebanyakan guru memiliki cara penilaian
yang tidak seragam.
e) Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f) Guru tidak memanfaatkan analisa hasil
evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan evaluasi
yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti
arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya
sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak
mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh
pengajaran yang diberikan atau tidak.
3) Masalah isi dan urut-urutan pelajaran
Dalam membuat
perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru
dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai
berikut:
a. Guru kurang menguasai materi
b. Materi yang disajikan tidak relevan dengan
tujuan
c. Materi yang diberikan sangat luas
d. Guru kurang mampu dalam menyesuaikan
penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e. Guru kurang terampil dalam
mengorganisasikan materi pelajaran.
f. Guru kurang mampu mengembangkan materi
pelajaran yang diberikannya.
g. Guru kurang mempertimbangkan urutan
tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang diberikan.
4) Masalah metode dan sistem penyajian bahan
pelajaran
Agar guru dapat
menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai
beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat
untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi
dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan
pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai beberapa siswa
penyajian yang menarik dan efektif.
b. Pemilihan metode kurang relevan dengan
tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c. Kurang terampil dalam menggunakan metode
d. Sangat terikat pada satu metode saja
e. Guru tidak memberikan umpan balik pada
tugas yang dikerjakan siswa.
5) Masalah hambatan-hambatan
Dalam
pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya
ialah:
a. Banyak guru kurang menggunakan
perpustakaan sebagai sumber belajar.
b. Guru kurang mempertimbangkan latar
belakang siswa yang tidak sama.
c. Guru kurang mengerti tentang kemampuan
dasar siswa yang kurang.
d. Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e. Keadaan sarana yang kurang
f. Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa
Inggris.
Dengan
menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru
mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya
efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk
mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah
Problem :
Apa hal yang dapat dilakukan agar kesulitan dalam membelajarkan kimia ke peserta didik dapat dilakukan dengan baik, kita ketahui materi' kimia ini sangat abstrak?