Kesulitan
Belajar Kimia Pada Siswa SMP dan SMA

Kesulitan
Belajar didefenisikan oleh The
United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman
(2003) adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar
yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Sedangkan
menurut Sunarta (1985) kesulitan belajar adalah kesulitan yang dialami oleh
peserta didik dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya
rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi
yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan
dalam proses belajar mengajar dimana peserta didik tidak dapat belajar
sebagaimana mestinya.
Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar pada peserta
didik. Menurut Helex Wirawan (2009) faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: faktor intern (faktor
dari dalam diri anak itu sendiri) yang meliputi faktor fisiologis dan faktor
psikologis serta faktor ekstern yang meliputi faktor sosial dan faktor non
sosial.
Pengertian Ilmu Kimia
Ilmu kimia
adalah ilmu yang berkenaan dengan karakterisasi, komposisi dan transformasi
materi (Mortimer, 1979). Definisi yang serupa dituliskan dalam Cambridge
Anvanced Learner Dictionary: 1) Chemistry is (the part of science which
studies) the basic characteristics of substances and the different ways in
which they react or combine with other substances, 2)Chemistry is the
scientific study of substances, what they are made of, how they act under
different conditions, and how they form other substances. Ilmu kimia merupakan
ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi (yang tersusun oleh
senyawa-senyawa) serta perubahannya, bagaimana senyawa-senyawa itu bereaksi/
ber¬kombinasi membentuk senyawa lain. Makanan, minuman, udara, pakaian,
kendaraan, tubuh kita, benda-benda langit yang jauh dari kita tersusun oleh
senyawa kimia. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kimia,
karena hampir setiap perubahan materi melibatkan proses kimia, proses
pencernaan makanan, pembusukan sampah, penuaan kulit, perkaratan besi,
pembakaran bensin, kebakaran hutan, pelapukan batuan, pembentukan bintang,
pembuatan plastik, pembuatan sabun dan pembuatan obat adalah contoh-contoh
proses kimia.
Ilmu kimia bersama-sama ilmu-ilmu yang lain telah memberikan banyak manfaat
kepada manusia, baik dalam bidang kesehatan, teknik, pertanian, pangan dan
kosmetika. Ilmu kimia telah berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi.
Kemajuan dalam bidang instrumentasi kimia sangat membantu ahli kimia dalam
melakukan identifikasi senyawa dan melakukan pengukuran kadar senyawa. Kemajuan
dalam bidang teknik dan fisika sangat membantu terlaksananya proses-proses
kimia yang memerlukan kondisi yang sangat khusus untuk berlangsungnya reaksi
kimia.
Ilmu kimia mencakup ilmu pengetahuan yang sangat luas, diantaranya pengetahuan
tentang unsur penyusun suatu materi, sturktur atom, susunan atom dalam suatu
senyawa, jenis ikatan antar atom dalam suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa,
mekanisme yang terjadi bila suatu senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi
antara suatu senyawa dengan senyawa lain, katalis dan kecepatan reaksi,
radiokimia dan topik lainnya.
Kimia modern
ada yang berkembang pada pemenuhan akan barang yang memiliki karakteristik
tertentu. Untuk itu telah ditemukan banyak cara untuk memproduksi barang baru.
Sebagai contoh minyak mentah diubah menjadi berbagai produk seperti nylon,
aspirin, cat, perekat; pasir menjadi gelas; gas nitrogen (di udara) menjadi
pupuk urea; minyak cengkeh menjadi vanilin. Polycarbonate, plastik transparan
yang sangat tahan terhadap sinar matahari merupakan produk derivat asam
karbonat yang disubstitusikan pada asam adipat atau asam phthalat. Teflon),
plastik yang sangat tahan terhadap reaksi kimia dan panas merupakan polimer
tetrafluoroethylene. Tetrafluoroethylene dalam sehari-hari dikenal dengan nama
freon. Di samping produk-produk yang bermanfaat, kimia juga menimbulkan
berbagai masalah lingkungan, seperti munculnya pencemaran udara, air dan tanah.
Dalam bidang pangan juga terjadi pemakaian bahan kimia yang sebenarnya
dilarang, seperti pemakaian warna tekstil untuk makanan, pemakaian monosodium
glutamat secara berlebihan, pemakaian formalin untuk mengawetkan ikan/makanan.
Pada tingkat
sekolah menengah, fungsi dan tujuan pem¬belajaran ilmu kimia(menurut kurikulum
2004) adalah:
Mata pelajaran
Kimia di SMA & MA berfungsi dan bertujuan sebagai berikut:
1.
Menyadari
keteraturan dan keindahan alam untuk meng¬agungkan kebesaran Tuhan Yang Maha
Esa.
2.
Memupuk sikap
ilmiah yang mencakup:
a. sikap jujur dan obyektif terhadap data;
b. sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang
lain serta mau mengubah
pandangannya, jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar;
c. ulet dan tidak cepat putus asa;
d. kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah
percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris; dan dapat bekerjasama
dengan orang lain.
3.
Memperoleh
pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen,
dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui
pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta
mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.
4.
Meningkatkan
kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi
individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan
melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
5.
Memahami
konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk
menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
6.
Membentuk sikap
yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia
lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta
kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya
dalam teknologi.
Pembelajaran
kimia di SMA/MA di samping mengembang¬kan sikap ilmiah juga ada pesan moral
dalam mensikapi alam dan keagungan penciptaNya. Untuk mewujudkan pesan moral
perlu pembekalan kepada guru agar dapat membimbing siswa yang mempelajari
kimia semakin menyadari keagungan penciptaNya.
Dalam
mempelajari kimia, siswa dihadapkan pada tiga dunia, yaitu dunia nyata
(makroskopik), dunia atom (mikroskopik), dan dunia lambang. Dunia nyata adalah
sesuatu yang dapat diamati menggunakan pancaindera. Setiap benda tersusun atas jutaan
partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Itulah yang disebut dunia atom.
Dunia atom sangat kecil sehingga kita tidak dapat mengunakan pancaindera untuk
mengamatinya. Namun, justru melalui dunia atom inilah dapat dijelaskan misteri
di balik fakta-fakta kehidupan. Bagaimana dengan dunia lambang? Oleh karena
atom tidak dapat diamati menggunakan pancaindera, para ahli Kimia
menjelaskannya dengan menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf. Masalah
yang menarik untuk diperhatian tentang ilmu kimia adalah meskipun ilmu kimia
banyak memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, tetapi banyak fakta
menunjukkan bahwa ilmu kimia dipandang ilmu yang sulit, tidak menarik untuk
dipelajari.
Permasalahan Pembelajaran Kimia
Pembelajaran
kimia mencakup persoalan yang sangat luas, mulai dari kebijakan pemerintah,
kompetensi guru, teknisi laboratorium, laboran, proses belajar mengajar, siswa,
infrastuktur dan keterlibatan orang tua. Jika mempelajari kimia dianggap sulit,
maka permasalahan ini kemungkinan besar terkait dengan komponen-komponen
tersebut. Selain komponen-komponen ini, kesulitan belajar juga dapat muncul
dari karakteristik materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar
konsepnya bersifat abstrak.
Pemerintah
telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan seperti tertuang dalam PP. No 19
Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang mencakup standar isi,
standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga
kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar
pembiayaan dan standar penilaian pendidikan yang ditujukan untuk penjaminan
mutu pendidikan.
Pemerintah juga
telah menggariskan agar proses belajar mengajar terjadi dalam situasi
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pemerintah sudah melakukan
training-training untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar, namun
setelah selesai mengikuti pelatihan tidak banyak berubah dengan berbagai alasan
diantaranya fasilitas tidak mendukung, tidak cukup waktu , kurang menguasai IT
(Information Technology). Ilmu kimia dikembangkan lewat eksperimen-ekperimen di
laboratorium, dengan demikian laboratorium memiliki peran yang sangat
penting, namun demikian tidak semua sekolah memiliki fasilitas laboratorium
yang memadai. Sekolah yang memiliki laboratorium penggunaannya masih kurang
optimal. Ketersediaan tenaga teknisi laboratorium dan laboran masih sangat
kurang bahkan sampai level perguruan tinggi keadaannya tidak banyak berbeda.
Usaha-usaha perbaikan pembelajaran sudah banyak dilaku¬kan dengan berbagai cara, peningkatan kompetensi guru melalui training-training, perbaikan fasilitas perpustakaan, pemanfaatan IT untuk pembelajaran, pembuatan software media interaktif, penulisan modul dan buku ajar, olimpiade kimia untuk mendorong siswa Sekolah menengah untuk belajar kimia lebih baik, Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) untuk peningkatan profesionalisme guru, mailing list untuk saling bertukar pengalaman dalam pembelajaran kimia, namun hasilnya belum meng¬gembirakan.
Usaha-usaha perbaikan pembelajaran sudah banyak dilaku¬kan dengan berbagai cara, peningkatan kompetensi guru melalui training-training, perbaikan fasilitas perpustakaan, pemanfaatan IT untuk pembelajaran, pembuatan software media interaktif, penulisan modul dan buku ajar, olimpiade kimia untuk mendorong siswa Sekolah menengah untuk belajar kimia lebih baik, Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) untuk peningkatan profesionalisme guru, mailing list untuk saling bertukar pengalaman dalam pembelajaran kimia, namun hasilnya belum meng¬gembirakan.
Konsep Kesulitan Belajar
Kesulitan
belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning
disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan
(e) learning disabilities (www.widatra.or.id/index.php 6 Agustus 2008). Secara
rinci pengertian-pengertian tersebut akan dibahas sebagai berikut:
Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. Siswa yang terbiasa mengerja¬kan segala sesuatu dengan tergesa-gesa akan sedikit mengalami kesulitan pada saat harus bekerja secara ekstra hati-hati di laboratorium.
Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. Siswa yang terbiasa mengerja¬kan segala sesuatu dengan tergesa-gesa akan sedikit mengalami kesulitan pada saat harus bekerja secara ekstra hati-hati di laboratorium.
Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan
siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak
menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan
psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi
atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah
dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan
baik. Siswa yang sebenarnya memiliki bakat numerik tinggi tetapi mengalami
kesulitan pada saat mempelajari konsep mol yang di dalamnya menuntut kemampuan
operasi matematik karena bakat numeriknya kurang sering diaplikasikan pada
bidang-bidang lain.
Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki
tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi
belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan
menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun
prestasi belajar¬nya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. Siswa yang di
tes kemampuan penalaran formalnya dan hasilnya menunjukkan bahwa siswa tersebut
sudah berada pada level operasional formal, namun mengalami kesulitan pada saat
mempelajari konsep-konsep yang bersifat abstrak. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar,
sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa
lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Prinsip pembelajaram
berbasis kompetensi menyadari adanya slow learner, sehingga siswa yang belum
mencapai standar kompetensi minimal (SKM) diwajibkan mengikuti remidi. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala
dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil
belajar di bawah potensi intelektualnya. Kondisi ini muncul karena adanya
mental retardation, hearing deficiencies, speech and language impairments,
visual impairments, emotional disturbances, orthopedic impairments, a variety
of medical conditions.
Sementara itu, Burton (dalam Abin Syamsuddin. 2003)
mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang
ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar.
Siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila: (1) Dalam batas waktu tertentu
yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat
penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah
ditetapkan oleh guru (criterion reference); (2) Tidak dapat mengerja¬kan atau
mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasar¬kan ukuran tingkat kemampuan,
bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam
under achiever; (3) Tidak berhasil tingkat penguasaan materi yang diperlukan
sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat
digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus
menjadi pengulang (repeater).
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran yang dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pen¬capaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran yang dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pen¬capaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
Tujuan pendidikan dalam keseluruhan
sistem pendidikan merupakan
salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses
kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran
diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target
tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan,
apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan
mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan
pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan
harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang
dicapai dijadikan sebagai ukuran tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara
statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika
siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang
harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery
learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah
berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar ketuntasan minimal yang
telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM).
Sebaliknya,
jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut
dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Kedudukan siswa dalam
Kelompok akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa
dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di
bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata
prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8,
diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai
seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan
prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat
menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa
yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan. Secara
statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang
menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group.
Perbandingan antara potensi dan
prestasi.
Prestasi
belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensi¬nya,
baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi
cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula.
Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh
prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan
prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana
dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami
kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi
yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan
psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk
kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya
hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang
dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas
menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan
istilah under achiever.
Beberapa dugaan penyebab kesulitan
belajar kimia.
Wayre Huang (www. chemistrysurvival.com/order.html) menemukan bahwa
kesulitan belajar kimia diantaranya disebabkan karena: (1) siswa tidak tahu
bagaimana caranya belajar, (2) siswa kurang mengasai matematika dasar, (3)
siswa kurang mempunyai kemampuan problem solving. Kemampuan problem
solving sangat diperlukan untuk mempelajari kimia.
Dorothy Gabel pada tahun 1999 (http://www.daisley.net/ hellevator/misconceptions/misconceptions.pdf)
menulis bahwa ada tiga level untuk menyatakan materi, yaitu level makro, level
sub mikro (model-model partikel) dan level simbolik (notasi kimia). Gabel
mengamati bahwa pembelajaran kimia pada umumnya berada pada level simbolik.
Pada Level simbolik siswa dituntut untuk berpikir abstrak. Gabel memiliki
bukti-bukti bahwa pembelajaran yang didominasi oleh level simbolik (abstrak)
ini tidak efektif. Siswa yang berada pada tahap konkret akan mengalami
kesulitan untuk mempelajari konsep-konsep abstrak. Logam besi adalah konsep
konkret, Ion Fe+3 adalah konsep abstrak. Konsep ikatan kimia, elektron, energi
ikat, energi kisi, energi dissosiasi, oksidasi-reduksi, hidrolisis, atom, jari-jari
atom adalah konsep-konsep abstrak. Untuk memberikan abstraksi, gambaran dan
ilustrasi konsep abstrak tidaklah mudah. Konsep abstrak sering disebut konsep
yang didefinisikan.
Huhey (1978) menjelaskan pentingnya gaya-gaya kimia (chemical forces) dalam
menentukan sifat-sifat kimia, seperti titik cair, titik didih, kelarutan suatu
senyawa dalam air. Gaya-gaya kimia terkait erat dengan konsep jari-jari.
Jari-jari atom tidak dapat diukur secara langsung, tetapi yang dapat diukur
adalah jarak antar inti. Konsep jari-jari atom harus diperlakukan secara
hati-hati karena atom dapat berada dalam situasi yang berbeda, apakah berikatan
secara ionik, kovalenatau van der Waals. Konsep-konsep ini sering tidak
menambah kejelasan konsep, tetapi justru menambah kebingungan dalam mempelajari
kimia. Dari sini muncullah konsep jari-jari ionik, jari-jari kovalen, jari-jari
van der Walls. Salah satu ilustrasi kesulitan mempelajari jari-jari atom adalah
jari-jari atom Xenon pada Xenon padat (sebesar 218 pm) yang berbeda dengan
jari-jari Xenon dalam senyawa XeF4 (sebesar 170 pm). Bagi siswa pemula dalam
mempelajari jari-jari akan kebingungan, karena siswa menganggap jari-jari atom
itu sesuatu yang tidak berubah-ubah. Penggunaan istilah jari-jari harus
digunakan secara cermat, apakah itu jari-jari ion, jari-jari kovalen atau
jari-jari van der Walls. Data-data berikut perlu dicermati dalam menjelaskan
jari-jari atom:
Pribula (www.study suggestion for g_chem.htm, 1996) menjelaskan bahwa pada
umumnya mata pelajaran kimia dirasakan sebagai matapelajaran yang sulit. Dalam
mata pelajaran ini akan dijumpai perbendaharaan kata, fakta-fakta,
konsep-konsep, teknik-teknik baru. Beberapa konsep baru dalam kimia perlu
dipahami secara lebih tepat karena dalam konteks kimia suatu konsep sangat
berbeda artinya dengan konsep yang sudah dipahami sebelumnya. Sebagai contoh
kata “reaksi”(reaction) dalam sehari-hari berarti bagaimana seseorang
memberikan respon atau melakukan per¬lawanan terhadap sesuatu yang dihadapinya,
sedangkan dalam konteks kimia kata “reaksi” berarti kombinasi unsur satu dengan
yang lain untuk membentuk senyawa baru. Pribula juga menemukan bahwa siswa
tidak benar-benar merasakan perlunya siswa terlibat secara aktif dalam proses
pembelajarannya. Banyak siswa yang tampaknya berpikir masuk kelas, mendengarkan
dengan pasif keterangan guru. Pribula mengatakan bahwa “No instructor, no
matter how gifted they may be, can teach you anything if you aren’t actively
engaged in, and responsible for, your own learning” Kesulitan belajar kimia
terkait juga dengan pemakaian nama-nama unsur yang tidak konsisten dengan
simbolnya. Sebagai contoh unsur besi (Iron) disimbulkan Fe (Ferrum), Emas
(Gold) disimpulkan Au (Aurum), Kalsium disimbulkan Ca, sedangkan simbol K
digunakan untuk kalium. Hal ini terjadi karena simbol-simbol unsur memang tidak
berasal dari bahasa Inggris. Kesulitan belajar dapat muncul dari kekeliruan
guru dalam usaha mengarahkan siswa agar tidak hanya menghafal. Belajar memang
tidak hanya menghafal, namun ada beberapa bagian yang tidak ada cara lain
kecuali menghafal. Nama-nama unsur kimia harus dihafal, tanpa menghafalnya
siswa tidak akan mengenalnya, lalu apa yang akan didiskusikan tentang kimia.
Ada beberapa guru yang sangat getol meminta siswanya untuk tidak menghafal dan
siswanya salah tangkap, terlanjur salah faham bahwa belajar kimia tidak boleh
menghafal.
Penelitian lain dilakukan oleh Jacob Anthony Seiler tahun 2006, Webster
University (http://www.mrseiler.org/thesis.pdf) yang menjelaskan penelitiannya
terhadap siswa yang memiliki kemampuan mengingat yang lemah atau pemahaman yang
parsial. Siswa menghubungkan pengalaman lama dengan konsep baru secara kurang
tepat. Peneliti melakukan penelitian terhadap perkembangan konsep siswa tentang
proses pendidihan air. Peneliti memberikan pretest dan posttest. Salah satu
pertanyaan yang diajukan kepada siswa adalah: Asumsikan suatu beker gelas
berisi air murni didihkan selama 30 menit. Gelembung-gelembung besar muncul
pada saat mendidih. Gelembung-gelembung tersebut terdiri dari a) air, b) gas
oksigen dan hidrogen, c) uap air, d) panas. Pada awal semester, ada 18 dari 45
siswa (40%) yakin bahwa gelembung berisi gas oksigen dan hidrogen. Pada akhir
semester, 23 dari 45 siswa (51%) berpikir yang sama. Dalam hal ini kemungkinan
siswa terpengaruh konsep dekomposisi air (H2O) menjadi gas H2 dan O2. Dari
penelitian ini tampak adanya miskonsepsi yang ternyata tidak mudah untuk
dihilangkan.
Arif Sholahuddin (www. portal dunia guru. htm, 2006) dalam penelitiannya
Implementasi Teori Ausabel pada Pembelajaran Senyawa Karbon di SMU menyimpulkan
bahwa pembelajaran konsep senyawa karbon umumnya dilakukan melalui pendekatan
hafalan dengan metode ceramah dan bahkan siswa hanya diberi tugas merangkum
sendiri materi tersebut. Materi senyawa karbon cukup luas akan menjadi beban
bagi siswa. Dampak yang lebih fatal adalah pokok bahasan senyawa karbon
menjadi masalah yang menjemukan dan tidak menarik untuk dipelajari. Peningkatan
proses dan hasil pembelajaran konsep senyawa karbon dapat dilakukan dengan penerapan
teori Ausabel, melalui: (1) Penggunaan peta konsep yang bertujuan untuk
mengetahui apa yang telah diketahui siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan
topik yang akan dipelajari, sehingga guru dapat mengkaitkan dengan pelajaran
baru agar pemahaman siswa terhadap konsep menjadi benar, terintegrasi dan
berkembang. (2) Pendekatan mekanisme reaksi yakni pendekatan yang
ber¬tujuan untuk memahami konsep senyawa karbon bergugus fungsi melalui logika
mekanisme reaksi kimia yang disederhanakan, sehingga siswa memahami hakikat
yang sesungguhnya dari sifat kimia senyawa tersebut, tidak sekadar menghafal.
(3) Penggunaan media laboratorium untuk mengurangi tingkat keabstrakan
konsep senyawa karbon karena siswa mengalami sendiri, mengamati, menafsirkan,
meramalkan, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama praktikum berlangsung.
Dengan demikian, hal ini akan menghasilkan pemahaman yang baik terhadap konsep
senyawa karbon, sekaligus mengembangkan semua ranah yakni kognitif, afektif,
dan psikomotoris pada diri siswa.
Arif Sholahuddin menyarankan: Mengingat luasnya materi yang menyangkut
senyawa karbon, guru hendaknya secara kreatif memilih konsep-konsep fundamental
dalam pembelajaran sehingga pembahasan dapat lebih mendalam dan bermakna.
Karena topik yang berkaitan dengan senyawa karbon tersebar di berbagai
tingkatan kelas, integrasi konsep sangat diperlukan agar terbentuk pemahaman
yang utuh dan benar. Implementasi metode eksperimen dalam pembelajaran senyawa
karbon merupakan salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pemahaman
siswa tersebut. Eksperimen ini tidak harus menggunakan bahan dan alat
yang mahal. Namun, dengan bahan-bahan kimia yang ada di sekitar siswa dan
alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum tetap bisa dilakukan.
Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan. Selain itu, karena
umumnya siswa kurang memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu
dapat diintegrasikan muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya
untuk Kalimantan Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal
pengetahuan siswa mengenai potensi daerahnya.
Beberapa Saran Dari Ahli Kimia Untuk
Pembelajaran Kimia.
Martin Fach, Tinja de Boer dan Ilka Parchmann (www.rec org/images/fach paper final-tcm 18-76278-pdf, 2006), dari kesulitan belajar stoikhiometri yang diperoleh dari interview terhadap siswa kelas 9, telah dikembangkan suatu Stepped Supporting Tools (SST) yaitu (1) Pemberian petunjuk umum bagimana menangani soal-soal, (2) Pemberian petunjuk tahap-tahap proses pemecahan masalah, (3) Pemberian saran-saran bagaimana murud-murid harus melewati tahap-tahap pemecahan masalah, (4) Pemberian istilah-istilah penting (glossary) kepada siswa. Menanggapi penelitian Fach dkk. ini, glossary sangat dibutuhkan dan belum banyak buku yang mencantumkan glossary. Dengan adanya glossary siswa bisa belajar lebih cepat terutama kalau dalam teks yang dibacanya ada istilah-istilah penting dan istilah itu ada di bagian bab yang berikutnya. Tanpa harus membaca bab berikutnya lebih dulu, siswa dapat tertolong dengan adanya glossary tersebut.
Martin Fach, Tinja de Boer dan Ilka Parchmann (www.rec org/images/fach paper final-tcm 18-76278-pdf, 2006), dari kesulitan belajar stoikhiometri yang diperoleh dari interview terhadap siswa kelas 9, telah dikembangkan suatu Stepped Supporting Tools (SST) yaitu (1) Pemberian petunjuk umum bagimana menangani soal-soal, (2) Pemberian petunjuk tahap-tahap proses pemecahan masalah, (3) Pemberian saran-saran bagaimana murud-murid harus melewati tahap-tahap pemecahan masalah, (4) Pemberian istilah-istilah penting (glossary) kepada siswa. Menanggapi penelitian Fach dkk. ini, glossary sangat dibutuhkan dan belum banyak buku yang mencantumkan glossary. Dengan adanya glossary siswa bisa belajar lebih cepat terutama kalau dalam teks yang dibacanya ada istilah-istilah penting dan istilah itu ada di bagian bab yang berikutnya. Tanpa harus membaca bab berikutnya lebih dulu, siswa dapat tertolong dengan adanya glossary tersebut.
Fredy Kurniawan
(http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files/, Jun 25, 2006)
menjelaskan bahwa kimia akan jadi lebih menarik kalau kita berikan dengan
mengkaitkan pelajaran dengan aspek praktis sehari hari, sehingga timbul
ketertarikan akan manfaat kimia yang yang kemudian akan masuk menjadi keinginan
untuk belajar. Kalau tak kenal maka tak sayang memang semboyan yang tepat. Kita
kenalkan dulu mudah mudahan mereka menjadi sayang dengan kimia.
Fredy mengambil contoh pembelajaran mengenai pH,
sebenarnya pH ini sangat bermanfaat bagi sekali dalam kehidupan. Kehidupan
tanaman, hewan, bakteri, proses-proses dalam tubuh berlangsung pada pH
tertentu. Oleh karena itu pemahaman tentang pH sangat diperlukan. Sederhana
saja pH adalah ─log [H+]. Kalau ingin menerangkan pH kenapa harus di log kan
H+ bukankah kita punya satuan lain yiatu molar (mol/L). Perlu dijelaskan
mengapa harus di log kan, karena konsentrasi H+ dalam sistem hidup sangat
rendah dan orde nya adalah 10 pangkat ─1 sampai + 14 bisa kita bayangkan kalau kita hitung dengan
orde Molar maka susah menyebutnya (0,0000000…) sehingga lebih
mudah dengan meng¬gunakan ─log [H+], kenapa ─log bukan +log maka jawabannya sederhana karena supaya
angkanya positif. Dengan menerangkan makna matematik ini maka siswa akan
mengerti dengan benar filosofi kimianya. Sebelum masuk ke hal hal perhitungan yang rumit
alangkah baiknya diberikan sedikit waktu untuk menunjukkan tanaman x bisa
tumbuh di pH sekian, tanaman Y bisa hidup di pH sekian. Tanyakan juga mengapa
tanaman X bisa tumbuh ditanah jenis A, kaitkan dengan pH. Aplikasinya kita
perlu mengukur keasaman tanah, lebih jauh dapat ditanyakan tanaman apa yang
cocok untuk ditanam disana. Indikator alam seperti kunyit dan bunga sepatu
perlu diperkenalkan. Urip Prakoso,
2006 (http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files),
mengusulkan perlunya usaha meng¬alih¬bahasakan berbagai ilmu termasuk kimia,
agar lebih mudah dimanfaatkan banyak guru kimia dan guru pada umumnya di
Indonesia, Kelihatannya belum ada lembaga pemerintah yang khusus mengalih
bahasakan berbagai bidang ilmu yang kemudian disebar ke sekolah-sekolah. Atau
setidaknya diletakkan di website khusus untuk guru. Ini lebih menghemat beaya
dari pada mengeluar¬kan banyak uang sekedar penataran yg tidak dapat memberi
dampak yang berarti.
Usulan ini tampaknya memang menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi beberapa pihak, khususnya yang mempunyai kendala bahasa, namun demikian karena jurnal-jurnal, buku-buku baru, informasi di web kebanyakkan berbahasa Inggris, maka kemampuan bahasa Inggris para guru juga perlu ditingkatkan. Jadi penterjemahan perlu dilakukan, namun kemampuan para guru dalam berbahasa Inggis harus ditingkatkan.
Usulan ini tampaknya memang menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi beberapa pihak, khususnya yang mempunyai kendala bahasa, namun demikian karena jurnal-jurnal, buku-buku baru, informasi di web kebanyakkan berbahasa Inggris, maka kemampuan bahasa Inggris para guru juga perlu ditingkatkan. Jadi penterjemahan perlu dilakukan, namun kemampuan para guru dalam berbahasa Inggis harus ditingkatkan.
Urip Prakosa juga mengusulkan pelajaran kimia
tidak semuanya dapat dijelaskan secara riil. Materi pelajaran yang abstrak,
atau karena keterbatasan bahan/sarana dapat diajarkan melalui metafora atau
analogi. Sebenarnya dengan menggunakan komputer saat ini tidak perlu lagi
memakai metafora atau analogi, karena dengan membuat visualisasi maka materi
abstrak dapat dijelaskan dengan relatif lebih mudah dan dipahami oleh siswa.
Jika tidak tersedia fasilitas komputer maka tidak ada salahnya memanfaatkan
analogi, harapannya siswa dapat memperoleh gambaran tentang apa yang
dipelajarinya. Contoh: Konsep elektron dan inti, mengapa atom dengan jari2
kecil lebih sulit melepaskan elektronnya, sedangkan atom dengan jari-jari lebih
besar relatif lebih mudah melepaskan elektron pada kulit terluarnya.
Analoginya, kontrol orang tua sebagai inti dengan anak sebagai elektron.
Semakin jauh jarak anak dengan orang tua maka semakin mudah pula anak berbuat
sekehendak hatinya berbuat sesuatu karena tidak dapat terkendali secara penuh
oleh orang tua. Kendali disini dapat dianalogkan dengan daya tarik inti kepada
elektron. Sandri Justiana 2006(http://www.groups_yahoo.com/group/
pengajaran_kimia_sma/files) menjelaskan sebaiknya sebelum memulai mengajarkan
konsep-konsep dasar kimia yang katanya membuat siswa pusing dan
mengawang-awang, ada baiknya dikenalkan dahulu dunia nyata yang dapat diamati
menggunakan pancaindera, yang ada disekitar kita. Selanjutnya dijelaskan bahwa
benda-benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom.
Atom tidak dapat dilihat oleh pancaindra, sehingga ahli kimia menggunakan
lambang berupa angka, model, dan huruf. Sebagai contoh, dalam mengajar kimia
struktur atom diberikan prolog: Amatilah tubuh Anda dan benda-benda di sekitar
Anda. Amati juga fenomena alam yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari,
dari proses bernapas, besi berkarat, hingga roti membusuk. Semua itu merupakan
fakta-fakta dalam kehidupan. Apakah yang menyusun tubuh Anda? Tersusun atas
apakah benda-benda di sekitar Anda? Mengapa besi berkarat dan roti membusuk?
Apakah yang terbentuk bila kertas/ lilin dibakar. Jika anda ingin mengetahui
jawabannya, anda harus memahami terlebih dahulu konsep atom. Dengan
prolog seperti itu, diharapkan siswa tidak akan terlalu bingung karena tahu apa
manfaat belajar atom. Selanjutnya, ketika mempelajari konsep-konsep lainnya,
konsep 3 (tiga) dunia kimia harus selalu dikaitkan. Jika siswa telah memahami
konsep 3 Dunia Kimia ini, maka pada saat melihat air, yang terbayang adalah
kumpulan molekul air. Siswa juga dapat menjelaskan mengapa air mempunyai sifat
sebagai pelarut yang paling baik.
Jika ingin
berhasil dalam mempelajari kimia, maka ada 4 hal yang perlu diperhatikan
(http://www. Thoughts on How To Learn Chemistry.htm., Jun 25, 2006):
1.
Baca buku sebelum masuk kelas.
Bacalah buku pelajaran sebelum masuk kelas. Cara
ini memungkinkan siswa untuk menelaah apa yang akan dipelajari, siswa sudah
mulai memahami materi yang kan diterima di sekolah, siswa akan tahu apa yang
sudah ada di buku dan apa yang belum ada di buku sehingga mempermudah siswa
membuat catatan. Dengan membaca lebih awal siswa akan dapat mencurahkan
perhatian khusus yang tidak jelas saat pelajaran berlangsung.
2. Perhatikan pelajaran. Mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, pusatkan perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat melakukan beberapa tindakan diantaranya mengecek tugas yang diberikan sebelumnya, melihat catatan siswa, menanyakan hal-hal apa yang masih belum jelas, hal-hal yang membingungkan.
3. Buat pencatatan. Catatlah hal-hal penting yang didengar pada waktu pem¬belajaran. Pada saat sedang membaca teks kurangi menulis, tulislah hal-hal yang belum faham, baik sebelum masuk kelas, setelah keluar kelas bahkan setelah meninggalkan sekolah. Ada kebiasaan yang kurang baik dalam mencatat, yaitu apa saja yang disampaikan guru akan dicatat. Pada saat mencatat siswa hanya mencatat terus tanpa berusaha memahami apa-apa yang sedang disampaikan guru, apa yang sedang didiskusikan. Siswa tidak berusaha untuk memahami apa yang mereka tulis. Ketika siswa ingin menggunakan catatan yang ditulisnya dalam belajar dan memecahkan masalah, mereka tidak tahu apa maksud catatan tersebut. Solusi banyaklah berikir, sedikitlah menulis, gunakan buku sebagai backup. Seseorang memiliki cara mencatat yang berbeda, ada yang cukup mebstabilo bagian penting, ada yang menambahkan catatan kecil. Temukan cara yang paling sesuai bagi anda.
4. Kerjakan soal-soal. Kerjakan soal-soal, kerjakan berulang-ulang. Kerjakan banyak soal. Kerjakan satu tugas sampai benar-benar dipahami. Soal-soal akan meminta siswa untuk menggunakan bahan-bahan pelajaran dan apa yang diberikan oleh guru. Soal-soal akan memberikan kepada siswa untuk menemukan konsep-konsep dan ide-ide mana yang sudah jelas dan yang belum jelas. Dengan demikian soal-soal akan menjadi menyenangkan. Banyak latihan soal merupakan hal penting untuk berhasil.
2. Perhatikan pelajaran. Mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, pusatkan perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat melakukan beberapa tindakan diantaranya mengecek tugas yang diberikan sebelumnya, melihat catatan siswa, menanyakan hal-hal apa yang masih belum jelas, hal-hal yang membingungkan.
3. Buat pencatatan. Catatlah hal-hal penting yang didengar pada waktu pem¬belajaran. Pada saat sedang membaca teks kurangi menulis, tulislah hal-hal yang belum faham, baik sebelum masuk kelas, setelah keluar kelas bahkan setelah meninggalkan sekolah. Ada kebiasaan yang kurang baik dalam mencatat, yaitu apa saja yang disampaikan guru akan dicatat. Pada saat mencatat siswa hanya mencatat terus tanpa berusaha memahami apa-apa yang sedang disampaikan guru, apa yang sedang didiskusikan. Siswa tidak berusaha untuk memahami apa yang mereka tulis. Ketika siswa ingin menggunakan catatan yang ditulisnya dalam belajar dan memecahkan masalah, mereka tidak tahu apa maksud catatan tersebut. Solusi banyaklah berikir, sedikitlah menulis, gunakan buku sebagai backup. Seseorang memiliki cara mencatat yang berbeda, ada yang cukup mebstabilo bagian penting, ada yang menambahkan catatan kecil. Temukan cara yang paling sesuai bagi anda.
4. Kerjakan soal-soal. Kerjakan soal-soal, kerjakan berulang-ulang. Kerjakan banyak soal. Kerjakan satu tugas sampai benar-benar dipahami. Soal-soal akan meminta siswa untuk menggunakan bahan-bahan pelajaran dan apa yang diberikan oleh guru. Soal-soal akan memberikan kepada siswa untuk menemukan konsep-konsep dan ide-ide mana yang sudah jelas dan yang belum jelas. Dengan demikian soal-soal akan menjadi menyenangkan. Banyak latihan soal merupakan hal penting untuk berhasil.
Wayre Huang, 2006)
(www. chemistrysurvival.com/order. html) menjelaskan bagaimana mengingat sistem
periodik unsur (SPU) hanya dalam 2 menit. Untuk memulainya siswa hanya perlu
mengingat 20 unsur pertama. Cara yang dijelaskan disebutnya Acrostic Mnemonic
Device. Huang
menggunakan jembatan keledai sebagai berikut:
Happy Henry, the
Little Beach Boy, CaN dO FiNe
Naughty Megan, the Alpine Sister, Pretends to Ski at ClArK Canyon
Naughty Megan, the Alpine Sister, Pretends to Ski at ClArK Canyon
Sumber :
Ashadi. 2009. Kesulitan Belajar bagi Siswa Sekolah Menengah. Dapat diakses pada URl : https://library.uns.ac.id/kesulitan-belajar-kimia-bagi-siswa-sekolah-menengah/
Pendidikan Ekonomi, 2015. Pengertian Kesulitan Belajar. Dapat diakses pada URL : http://www.pendidikanekonomi.com/2015/04/pengertian-kesulitan-belajar-dan-faktor.html
Problem :
Sebagai calon guru, dapatkah teman teman membuat sebuah analogi atau sebuah konsep materi kimia dikelas, agar siswa dapat memahami dengan mudah? :) :)