Minggu, 26 Maret 2017

Kesulitan Belajar Kimia Pada Siswa SMP dan SMA





Kesulitan Belajar didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003) adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.

Sedangkan menurut Sunarta (1985) kesulitan belajar adalah kesulitan yang dialami oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar pada peserta didik. Menurut Helex Wirawan (2009) faktor-faktor penyebab kesulitan belajar tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: faktor intern (faktor dari dalam diri anak itu sendiri) yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis serta faktor ekstern yang meliputi faktor sosial dan faktor non sosial.

Pengertian Ilmu Kimia
Ilmu kimia adalah ilmu yang berkenaan dengan karakterisasi, komposisi dan transformasi materi (Mortimer, 1979). Definisi yang serupa dituliskan dalam Cambridge Anvanced Learner Dictionary: 1) Chemistry is (the part of science which studies) the basic characteristics of substances and the different ways in which they react or combine with other substances, 2)Chemistry is the scientific study of substances, what they are made of, how they act under different conditions, and how they form other substances. Ilmu kimia merupakan ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi (yang tersusun oleh senyawa-senyawa) serta perubahannya, bagaimana senyawa-senyawa itu bereaksi/ ber¬kombinasi membentuk senyawa lain. Makanan, minuman, udara, pakaian, kendaraan, tubuh kita, benda-benda langit yang jauh dari kita tersusun oleh senyawa kimia.  Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kimia, karena hampir setiap perubahan materi melibatkan proses kimia, proses pencernaan makanan, pembusukan sampah, penuaan kulit, perkaratan besi, pembakaran bensin, kebakaran hutan, pelapukan batuan, pembentukan bintang, pembuatan plastik, pembuatan sabun dan pembuatan obat adalah contoh-contoh proses kimia.

Ilmu kimia bersama-sama ilmu-ilmu yang lain telah memberikan banyak manfaat kepada manusia, baik dalam bidang kesehatan, teknik, pertanian, pangan dan kosmetika. Ilmu kimia telah berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi. Kemajuan dalam bidang instrumentasi kimia sangat membantu ahli kimia dalam melakukan identifikasi senyawa dan melakukan pengukuran kadar senyawa. Kemajuan dalam bidang teknik dan fisika sangat membantu terlaksananya proses-proses kimia yang memerlukan kondisi yang sangat khusus untuk berlangsungnya reaksi kimia.

Ilmu kimia mencakup ilmu pengetahuan yang sangat luas, diantaranya pengetahuan tentang unsur penyusun suatu materi, sturktur atom, susunan atom dalam suatu senyawa, jenis ikatan antar atom dalam suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa, mekanisme yang terjadi bila suatu senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi antara suatu senyawa dengan senyawa lain, katalis dan kecepatan reaksi, radiokimia dan topik lainnya.
Kimia modern ada yang berkembang pada pemenuhan akan barang yang memiliki karakteristik tertentu. Untuk itu telah ditemukan banyak cara untuk memproduksi barang baru. Sebagai contoh minyak mentah diubah menjadi berbagai produk seperti nylon, aspirin, cat, perekat; pasir menjadi gelas; gas nitrogen (di udara) menjadi pupuk urea; minyak cengkeh menjadi vanilin. Polycarbonate, plastik transparan yang sangat tahan terhadap sinar matahari merupakan produk derivat asam karbonat yang disubstitusikan pada asam adipat atau asam phthalat. Teflon), plastik yang sangat tahan terhadap reaksi kimia dan panas merupakan polimer tetrafluoroethylene. Tetrafluoroethylene dalam sehari-hari dikenal dengan nama freon. Di samping produk-produk yang bermanfaat, kimia juga menimbulkan berbagai masalah lingkungan, seperti munculnya pencemaran udara, air dan tanah. Dalam bidang pangan juga terjadi pemakaian bahan kimia yang sebenarnya dilarang, seperti pemakaian warna tekstil untuk makanan, pemakaian monosodium glutamat secara berlebihan, pemakaian formalin untuk mengawetkan ikan/makanan.
Pada tingkat sekolah menengah, fungsi dan tujuan pem¬belajaran ilmu kimia(menurut kurikulum 2004) adalah:
Mata pelajaran Kimia di SMA & MA berfungsi dan bertujuan sebagai berikut:
1.   Menyadari keteraturan dan keindahan alam untuk meng¬agungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
2.   Memupuk sikap ilmiah yang mencakup:
a.    sikap jujur dan obyektif terhadap data;
b.    sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah
pandangannya, jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar;
c.    ulet dan tidak cepat putus asa;
d.    kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris; dan dapat bekerjasama dengan orang lain.
3.   Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.
4.   Meningkatkan kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
5.   Memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
6.   Membentuk sikap yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya dalam teknologi.
Pembelajaran kimia di SMA/MA di samping mengembang¬kan sikap ilmiah juga ada pesan moral dalam mensikapi alam dan keagungan penciptaNya. Untuk mewujudkan pesan moral perlu pembekalan kepada guru agar dapat membimbing siswa yang  mempelajari kimia semakin menyadari keagungan penciptaNya.
Dalam mempelajari kimia, siswa dihadapkan pada tiga dunia, yaitu dunia nyata (makroskopik), dunia atom (mikroskopik), dan dunia lambang. Dunia nyata adalah sesuatu yang dapat diamati menggunakan pancaindera. Setiap benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Itulah yang disebut dunia atom. Dunia atom sangat kecil sehingga kita tidak dapat mengunakan pancaindera untuk mengamatinya. Namun, justru melalui dunia atom inilah dapat dijelaskan misteri di balik fakta-fakta kehidupan. Bagaimana dengan dunia lambang? Oleh karena atom tidak dapat diamati menggunakan pancaindera, para ahli Kimia menjelaskannya dengan menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf. Masalah yang menarik untuk diperhatian tentang ilmu kimia adalah meskipun ilmu kimia banyak memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, tetapi banyak fakta menunjukkan bahwa ilmu kimia dipandang ilmu yang sulit, tidak menarik untuk dipelajari.
Permasalahan Pembelajaran Kimia
Pembelajaran kimia mencakup persoalan yang sangat luas, mulai dari kebijakan pemerintah, kompetensi guru, teknisi laboratorium, laboran, proses belajar mengajar, siswa, infrastuktur dan keterlibatan orang tua. Jika mempelajari kimia dianggap sulit, maka permasalahan ini kemungkinan besar terkait dengan komponen-komponen tersebut. Selain komponen-komponen ini, kesulitan belajar juga dapat muncul dari karakteristik materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak.
Pemerintah telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan seperti tertuang dalam PP. No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang mencakup standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan yang ditujukan untuk penjaminan mutu pendidikan.
Pemerintah juga telah menggariskan agar proses belajar mengajar terjadi dalam situasi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pemerintah sudah melakukan training-training untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar, namun setelah selesai mengikuti pelatihan tidak banyak berubah dengan berbagai alasan diantaranya fasilitas tidak mendukung, tidak cukup waktu , kurang menguasai IT (Information Technology). Ilmu kimia dikembangkan lewat eksperimen-ekperimen di laboratorium, dengan demikian laboratorium memiliki peran yang sangat  penting, namun demikian tidak semua sekolah memiliki fasilitas laboratorium yang memadai. Sekolah yang memiliki laboratorium penggunaannya masih kurang optimal. Ketersediaan tenaga teknisi laboratorium dan laboran masih sangat kurang bahkan sampai level perguruan tinggi keadaannya tidak banyak berbeda.
Usaha-usaha perbaikan pembelajaran sudah banyak dilaku¬kan dengan berbagai cara, peningkatan kompetensi guru melalui training-training, perbaikan fasilitas perpustakaan, pemanfaatan IT untuk pembelajaran, pembuatan software media interaktif, penulisan modul dan buku ajar, olimpiade kimia untuk mendorong siswa Sekolah menengah untuk belajar kimia lebih baik,  Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) untuk peningkatan profesionalisme guru, mailing list untuk saling bertukar pengalaman dalam pembelajaran kimia, namun hasilnya belum meng¬gembirakan.
Konsep Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning disabilities (www.widatra.or.id/index.php 6 Agustus 2008). Secara rinci pengertian-pengertian tersebut akan dibahas sebagai berikut:
Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. Siswa yang terbiasa mengerja¬kan segala sesuatu dengan tergesa-gesa akan sedikit mengalami kesulitan pada saat harus bekerja secara ekstra hati-hati di laboratorium.
Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik. Siswa yang sebenarnya memiliki bakat numerik tinggi tetapi mengalami kesulitan pada saat mempelajari konsep mol yang di dalamnya menuntut kemampuan operasi matematik karena bakat numeriknya kurang sering diaplikasikan pada bidang-bidang lain.
Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajar¬nya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. Siswa yang di tes kemampuan penalaran formalnya dan hasilnya menunjukkan bahwa siswa tersebut sudah berada pada level operasional formal, namun mengalami kesulitan pada saat mempelajari konsep-konsep yang bersifat abstrak. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Prinsip pembelajaram berbasis kompetensi menyadari adanya slow learner, sehingga siswa yang belum mencapai standar kompetensi minimal (SKM) diwajibkan mengikuti remidi. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Kondisi ini muncul karena adanya mental retardation, hearing deficiencies, speech and language impairments, visual impairments, emotional disturbances, orthopedic impairments, a variety of medical conditions. 
Sementara itu, Burton (dalam Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila: (1) Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference); (2) Tidak dapat mengerja¬kan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasar¬kan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever; (3) Tidak berhasil tingkat penguasaan materi yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater).
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran yang dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pen¬capaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
Tujuan pendidikan dalam keseluruhan sistem pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai ukuran tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar ketuntasan minimal yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Kedudukan siswa dalam Kelompok  akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan. Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group.
Perbandingan antara potensi dan prestasi.
Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensi¬nya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah under achiever.
Beberapa dugaan penyebab kesulitan belajar kimia.
Wayre Huang (www. chemistrysurvival.com/order.html) menemukan bahwa kesulitan belajar kimia diantaranya disebabkan karena: (1) siswa tidak tahu bagaimana caranya belajar, (2) siswa kurang mengasai matematika dasar, (3) siswa kurang mempunyai kemampuan problem solving.  Kemampuan problem solving sangat diperlukan untuk mempelajari kimia.
Dorothy Gabel pada tahun 1999 (http://www.daisley.net/ hellevator/misconceptions/misconceptions.pdf) menulis bahwa ada tiga level untuk menyatakan materi, yaitu level makro, level sub mikro (model-model partikel) dan level simbolik (notasi kimia). Gabel mengamati bahwa pembelajaran kimia pada umumnya berada pada level simbolik. Pada Level simbolik siswa dituntut untuk berpikir abstrak. Gabel memiliki bukti-bukti bahwa pembelajaran yang didominasi oleh level simbolik (abstrak) ini tidak efektif. Siswa yang berada pada tahap konkret akan mengalami kesulitan untuk mempelajari konsep-konsep abstrak. Logam besi adalah konsep konkret, Ion Fe+3 adalah konsep abstrak. Konsep ikatan kimia, elektron, energi ikat, energi kisi, energi dissosiasi, oksidasi-reduksi, hidrolisis, atom, jari-jari atom adalah konsep-konsep abstrak. Untuk memberikan abstraksi, gambaran dan ilustrasi konsep abstrak tidaklah mudah. Konsep abstrak sering disebut konsep yang didefinisikan.
Huhey (1978) menjelaskan pentingnya gaya-gaya kimia (chemical forces) dalam menentukan sifat-sifat kimia, seperti titik cair, titik didih, kelarutan suatu senyawa dalam air. Gaya-gaya kimia terkait erat dengan konsep jari-jari. Jari-jari atom tidak dapat diukur secara langsung, tetapi yang dapat diukur adalah jarak antar inti. Konsep jari-jari atom harus diperlakukan secara hati-hati karena atom dapat berada dalam situasi yang berbeda, apakah berikatan secara ionik, kovalenatau van der Waals.  Konsep-konsep ini sering tidak menambah kejelasan konsep, tetapi justru menambah kebingungan dalam mempelajari kimia. Dari sini muncullah konsep jari-jari ionik, jari-jari kovalen, jari-jari van der Walls. Salah satu ilustrasi kesulitan mempelajari jari-jari atom adalah jari-jari atom Xenon pada Xenon padat (sebesar 218 pm) yang berbeda dengan jari-jari Xenon dalam senyawa XeF4 (sebesar 170 pm). Bagi siswa pemula dalam mempelajari jari-jari akan kebingungan, karena siswa menganggap jari-jari atom itu sesuatu yang tidak berubah-ubah. Penggunaan istilah jari-jari harus digunakan secara cermat, apakah itu jari-jari ion, jari-jari kovalen atau jari-jari van der Walls. Data-data berikut perlu dicermati dalam menjelaskan jari-jari atom:
Pribula (www.study suggestion for g_chem.htm, 1996) menjelaskan bahwa pada umumnya mata pelajaran kimia dirasakan sebagai matapelajaran yang sulit. Dalam mata pelajaran ini akan dijumpai perbendaharaan kata, fakta-fakta, konsep-konsep, teknik-teknik baru. Beberapa konsep baru dalam kimia perlu dipahami secara lebih tepat karena dalam konteks kimia suatu konsep sangat berbeda artinya dengan konsep yang sudah dipahami sebelumnya. Sebagai contoh kata “reaksi”(reaction) dalam sehari-hari berarti bagaimana seseorang memberikan respon atau melakukan per¬lawanan terhadap sesuatu yang dihadapinya, sedangkan dalam konteks kimia kata “reaksi” berarti kombinasi unsur satu dengan yang lain untuk membentuk senyawa baru. Pribula juga menemukan bahwa siswa tidak benar-benar merasakan perlunya siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajarannya. Banyak siswa yang tampaknya berpikir masuk kelas, mendengarkan dengan pasif keterangan guru. Pribula mengatakan bahwa “No instructor, no matter how gifted they may be, can teach you anything if you aren’t actively engaged in, and responsible for, your own learning” Kesulitan belajar kimia terkait juga dengan pemakaian nama-nama unsur yang tidak konsisten dengan simbolnya. Sebagai contoh unsur besi (Iron) disimbulkan Fe (Ferrum), Emas  (Gold) disimpulkan Au (Aurum), Kalsium disimbulkan Ca, sedangkan simbol K digunakan untuk kalium. Hal ini terjadi karena simbol-simbol unsur memang tidak berasal dari bahasa Inggris. Kesulitan belajar dapat muncul dari kekeliruan guru dalam usaha mengarahkan siswa agar tidak hanya menghafal. Belajar memang tidak hanya menghafal, namun ada beberapa bagian yang tidak ada cara lain kecuali menghafal. Nama-nama unsur kimia harus dihafal, tanpa menghafalnya siswa tidak akan mengenalnya, lalu apa yang akan didiskusikan tentang kimia. Ada beberapa guru yang sangat getol meminta siswanya untuk tidak menghafal dan siswanya salah tangkap, terlanjur salah faham bahwa belajar kimia tidak boleh menghafal.
Penelitian lain dilakukan oleh Jacob Anthony Seiler tahun 2006, Webster University (http://www.mrseiler.org/thesis.pdf) yang menjelaskan penelitiannya terhadap siswa yang memiliki kemampuan mengingat yang lemah atau pemahaman yang parsial. Siswa menghubungkan pengalaman lama dengan konsep baru secara kurang tepat. Peneliti melakukan penelitian terhadap perkembangan konsep siswa tentang proses pendidihan air. Peneliti memberikan pretest dan posttest. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada siswa adalah: Asumsikan suatu beker gelas berisi air murni didihkan selama 30 menit. Gelembung-gelembung besar muncul pada saat mendidih. Gelembung-gelembung tersebut terdiri dari a) air, b) gas oksigen dan hidrogen, c) uap air, d) panas. Pada awal semester, ada 18 dari 45 siswa (40%) yakin bahwa gelembung berisi gas oksigen dan hidrogen. Pada akhir semester, 23 dari 45 siswa (51%) berpikir yang sama. Dalam hal ini kemungkinan siswa terpengaruh konsep dekomposisi air (H2O) menjadi gas H2 dan O2. Dari penelitian ini tampak adanya miskonsepsi yang ternyata tidak mudah untuk dihilangkan.
Arif Sholahuddin (www. portal dunia guru. htm, 2006) dalam penelitiannya Implementasi Teori Ausabel pada Pembelajaran Senyawa Karbon di SMU menyimpulkan bahwa pembelajaran konsep senyawa karbon umumnya dilakukan melalui pendekatan hafalan dengan metode ceramah dan bahkan siswa hanya diberi tugas merangkum sendiri materi tersebut. Materi senyawa karbon cukup luas akan menjadi beban bagi siswa.  Dampak yang lebih fatal adalah pokok bahasan senyawa karbon menjadi masalah yang menjemukan dan tidak menarik untuk dipelajari. Peningkatan proses dan hasil pembelajaran konsep senyawa karbon dapat dilakukan dengan penerapan teori Ausabel, melalui: (1)  Penggunaan peta konsep yang bertujuan untuk mengetahui apa yang telah diketahui siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari, sehingga guru dapat mengkaitkan dengan pelajaran baru agar pemahaman siswa terhadap konsep menjadi benar, terintegrasi dan berkembang. (2)  Pendekatan mekanisme reaksi yakni pendekatan yang ber¬tujuan untuk memahami konsep senyawa karbon bergugus fungsi melalui logika mekanisme reaksi kimia yang disederhanakan, sehingga siswa memahami hakikat yang sesungguhnya dari sifat kimia senyawa tersebut, tidak sekadar menghafal. (3)  Penggunaan media laboratorium untuk mengurangi tingkat keabstrakan konsep senyawa karbon karena siswa mengalami sendiri, mengamati, menafsirkan, meramalkan, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama praktikum berlangsung. Dengan demikian, hal ini akan menghasilkan pemahaman yang baik terhadap konsep senyawa karbon, sekaligus mengembangkan semua ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotoris pada diri siswa.
Arif Sholahuddin menyarankan: Mengingat luasnya materi yang menyangkut senyawa karbon, guru hendaknya secara kreatif memilih konsep-konsep fundamental dalam pembelajaran sehingga pembahasan dapat lebih mendalam dan bermakna.  Karena topik yang berkaitan dengan senyawa karbon tersebar di berbagai tingkatan kelas, integrasi konsep sangat diperlukan agar terbentuk pemahaman yang utuh dan benar. Implementasi metode eksperimen dalam pembelajaran senyawa karbon merupakan salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pemahaman siswa tersebut.  Eksperimen ini tidak harus menggunakan bahan dan alat yang mahal.  Namun, dengan bahan-bahan kimia yang ada di sekitar siswa dan alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum tetap bisa dilakukan. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan.  Selain itu, karena umumnya siswa kurang memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu dapat diintegrasikan muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya untuk Kalimantan Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal pengetahuan siswa mengenai potensi daerahnya.
Beberapa Saran Dari Ahli Kimia Untuk Pembelajaran Kimia.
Martin Fach, Tinja de Boer dan Ilka Parchmann  (www.rec org/images/fach paper final-tcm 18-76278-pdf, 2006), dari kesulitan belajar stoikhiometri yang diperoleh dari interview terhadap siswa kelas 9, telah dikembangkan suatu Stepped Supporting Tools (SST) yaitu (1) Pemberian petunjuk umum bagimana menangani soal-soal, (2) Pemberian petunjuk tahap-tahap proses pemecahan masalah, (3) Pemberian saran-saran bagaimana murud-murid harus melewati tahap-tahap pemecahan masalah, (4) Pemberian istilah-istilah penting (glossary) kepada siswa. Menanggapi penelitian Fach dkk. ini, glossary sangat dibutuhkan dan belum banyak buku yang mencantumkan glossary. Dengan adanya glossary siswa bisa belajar lebih cepat terutama kalau dalam teks yang dibacanya ada istilah-istilah penting dan istilah itu ada di bagian bab yang berikutnya. Tanpa harus membaca bab berikutnya lebih dulu, siswa dapat tertolong dengan adanya glossary tersebut.
Fredy Kurniawan (http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files/, Jun 25, 2006) menjelaskan bahwa kimia akan jadi lebih menarik kalau kita berikan dengan  mengkaitkan pelajaran dengan aspek praktis sehari hari, sehingga timbul ketertarikan akan manfaat kimia yang yang kemudian akan masuk menjadi keinginan untuk belajar. Kalau tak kenal maka tak sayang memang semboyan yang tepat. Kita kenalkan dulu mudah mudahan mereka menjadi sayang dengan kimia.

Fredy mengambil contoh pembelajaran mengenai pH, sebenarnya pH ini sangat bermanfaat bagi sekali dalam kehidupan. Kehidupan tanaman, hewan, bakteri, proses-proses dalam tubuh berlangsung pada pH tertentu. Oleh karena itu pemahaman tentang pH sangat diperlukan. Sederhana saja pH adalah log [H+]. Kalau ingin menerangkan pH kenapa harus di log kan H+ bukankah kita punya satuan lain yiatu molar (mol/L). Perlu dijelaskan mengapa harus di log kan, karena konsentrasi H+ dalam sistem hidup sangat rendah dan orde nya adalah 10 pangkat 1 sampai + 14 bisa kita bayangkan kalau kita hitung dengan orde Molar maka susah menyebutnya  (0,0000000) sehingga lebih mudah dengan meng¬gunakan log [H+], kenapa log bukan +log maka jawabannya sederhana karena supaya angkanya positif. Dengan menerangkan makna matematik ini maka siswa akan mengerti dengan benar filosofi kimianya. Sebelum masuk ke hal hal perhitungan yang rumit alangkah baiknya diberikan sedikit waktu untuk menunjukkan tanaman x bisa tumbuh di pH sekian, tanaman Y bisa hidup di pH sekian. Tanyakan juga mengapa tanaman X bisa tumbuh ditanah jenis A, kaitkan dengan pH. Aplikasinya kita perlu mengukur keasaman tanah, lebih jauh dapat ditanyakan tanaman apa yang cocok untuk ditanam disana. Indikator alam seperti kunyit dan bunga sepatu perlu diperkenalkan. Urip Prakoso, 2006 (http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files), mengusulkan perlunya usaha meng¬alih¬bahasakan berbagai ilmu termasuk kimia, agar lebih mudah dimanfaatkan banyak guru kimia dan guru pada umumnya di Indonesia, Kelihatannya belum ada lembaga pemerintah yang khusus mengalih bahasakan berbagai bidang ilmu yang kemudian disebar ke sekolah-sekolah. Atau setidaknya diletakkan di website khusus untuk guru. Ini lebih menghemat beaya dari pada mengeluar¬kan banyak uang sekedar penataran yg tidak dapat memberi dampak yang berarti.
Usulan ini tampaknya memang menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi beberapa pihak, khususnya yang mempunyai kendala bahasa, namun demikian karena jurnal-jurnal, buku-buku baru, informasi di web kebanyakkan berbahasa Inggris, maka kemampuan bahasa Inggris para guru juga perlu ditingkatkan. Jadi penterjemahan perlu dilakukan, namun kemampuan para guru dalam berbahasa Inggis harus ditingkatkan.

Urip Prakosa juga mengusulkan pelajaran kimia tidak semuanya dapat dijelaskan secara riil. Materi pelajaran yang abstrak, atau karena keterbatasan bahan/sarana dapat diajarkan melalui metafora atau analogi. Sebenarnya dengan menggunakan komputer saat ini tidak perlu lagi memakai metafora atau analogi, karena dengan membuat visualisasi maka materi abstrak dapat dijelaskan dengan relatif lebih mudah dan dipahami oleh siswa. Jika tidak tersedia fasilitas komputer maka tidak ada salahnya memanfaatkan analogi, harapannya siswa dapat memperoleh gambaran tentang apa yang dipelajarinya. Contoh: Konsep elektron dan inti, mengapa atom dengan jari2 kecil lebih sulit melepaskan elektronnya, sedangkan atom dengan jari-jari lebih besar relatif lebih mudah melepaskan elektron pada kulit terluarnya. Analoginya,  kontrol orang tua sebagai inti dengan anak sebagai elektron. Semakin jauh jarak anak dengan orang tua maka semakin mudah pula anak berbuat sekehendak hatinya berbuat sesuatu karena tidak dapat terkendali secara penuh oleh orang tua. Kendali disini dapat dianalogkan dengan daya tarik inti kepada elektron. Sandri Justiana 2006(http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files) menjelaskan sebaiknya sebelum memulai mengajarkan konsep-konsep dasar kimia yang katanya membuat siswa pusing dan mengawang-awang, ada baiknya dikenalkan dahulu dunia nyata yang dapat diamati menggunakan pancaindera, yang ada disekitar kita. Selanjutnya dijelaskan bahwa benda-benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Atom tidak dapat dilihat oleh pancaindra, sehingga ahli kimia menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf. Sebagai contoh, dalam mengajar kimia struktur atom diberikan prolog: Amatilah tubuh Anda dan benda-benda di sekitar Anda. Amati juga fenomena alam yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dari proses bernapas, besi berkarat, hingga roti membusuk. Semua itu merupakan fakta-fakta dalam kehidupan. Apakah yang menyusun tubuh Anda? Tersusun atas apakah benda-benda di sekitar Anda? Mengapa besi berkarat dan roti membusuk? Apakah yang terbentuk bila kertas/ lilin dibakar. Jika anda ingin mengetahui jawabannya, anda harus memahami terlebih dahulu  konsep atom. Dengan prolog seperti itu, diharapkan siswa tidak akan terlalu bingung karena tahu apa manfaat belajar atom. Selanjutnya, ketika mempelajari konsep-konsep lainnya, konsep 3 (tiga) dunia kimia harus selalu dikaitkan. Jika siswa telah memahami konsep 3 Dunia Kimia ini, maka pada saat melihat air, yang terbayang adalah kumpulan molekul air. Siswa juga dapat menjelaskan mengapa air mempunyai sifat sebagai pelarut yang paling baik.
Jika ingin berhasil dalam mempelajari kimia, maka ada 4 hal yang perlu diperhatikan (http://www. Thoughts on How To Learn Chemistry.htm., Jun 25,  2006):
1.    Baca buku sebelum masuk kelas. Bacalah buku pelajaran sebelum masuk kelas. Cara ini memungkinkan siswa untuk menelaah apa yang akan dipelajari, siswa sudah mulai memahami materi yang kan diterima di sekolah, siswa akan tahu apa yang sudah ada di buku dan apa yang belum ada di buku sehingga mempermudah siswa membuat catatan. Dengan membaca lebih awal siswa akan dapat mencurahkan perhatian khusus yang tidak jelas saat pelajaran berlangsung.
2.    Perhatikan pelajaran. Mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, pusatkan perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat melakukan beberapa tindakan diantaranya mengecek tugas yang diberikan sebelumnya, melihat catatan siswa, menanyakan hal-hal apa yang masih belum jelas, hal-hal yang membingungkan.
3.    Buat pencatatan. Catatlah hal-hal penting yang didengar pada waktu pem¬belajaran. Pada saat sedang membaca teks kurangi menulis, tulislah hal-hal yang belum faham, baik sebelum masuk kelas, setelah keluar kelas bahkan setelah meninggalkan sekolah. Ada kebiasaan yang kurang baik dalam mencatat, yaitu apa saja yang disampaikan guru akan dicatat. Pada saat mencatat siswa hanya mencatat terus tanpa berusaha memahami apa-apa yang sedang disampaikan guru, apa yang sedang didiskusikan. Siswa tidak berusaha untuk memahami apa yang mereka tulis. Ketika siswa ingin menggunakan catatan yang ditulisnya dalam belajar dan memecahkan masalah, mereka tidak tahu apa maksud catatan tersebut. Solusi banyaklah berikir, sedikitlah menulis, gunakan buku sebagai backup. Seseorang memiliki cara mencatat yang berbeda, ada yang cukup mebstabilo bagian penting, ada yang menambahkan catatan kecil. Temukan cara yang paling sesuai bagi anda.
4.    Kerjakan soal-soal. Kerjakan soal-soal, kerjakan berulang-ulang. Kerjakan banyak soal. Kerjakan satu tugas sampai benar-benar dipahami. Soal-soal akan meminta siswa untuk menggunakan bahan-bahan pelajaran dan apa yang diberikan oleh guru. Soal-soal akan memberikan kepada siswa untuk menemukan konsep-konsep dan ide-ide mana yang sudah jelas dan yang belum jelas. Dengan demikian soal-soal akan menjadi menyenangkan. Banyak latihan soal merupakan hal penting untuk berhasil.
Wayre Huang, 2006) (www. chemistrysurvival.com/order. html) menjelaskan bagaimana mengingat sistem periodik unsur (SPU) hanya dalam 2 menit. Untuk memulainya siswa hanya perlu mengingat 20 unsur pertama. Cara yang dijelaskan disebutnya Acrostic Mnemonic Device. Huang menggunakan jembatan keledai sebagai berikut:
Happy Henry, the Little Beach Boy, CaN dO FiNe
Naughty Megan, the Alpine Sister, Pretends to Ski at ClArK Canyon

Sumber :

Ashadi. 2009. Kesulitan Belajar bagi Siswa Sekolah Menengah. Dapat diakses pada URl : https://library.uns.ac.id/kesulitan-belajar-kimia-bagi-siswa-sekolah-menengah/

Pendidikan Ekonomi, 2015. Pengertian Kesulitan Belajar. Dapat diakses pada URL : http://www.pendidikanekonomi.com/2015/04/pengertian-kesulitan-belajar-dan-faktor.html



Problem :
Sebagai calon guru, dapatkah teman teman membuat sebuah analogi atau sebuah konsep materi kimia dikelas, agar siswa dapat memahami dengan mudah? :) :)