Minggu, 28 Mei 2017

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

PENGERTIAN
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang dari istilah penelitian tindakan (action research) (Sanjaya, hal. 24). Oleh karena itu, untuk memahami pengertian PTK perlu ditelusuri pengertian penelitian tindakan terlebih dahulu. Penelitian tindakan mulai berkembang di Amerika dan berbagai negara di Eropa, khususnya dikembangkan oleh mereka yang bergerak di bidang ilmu sosial dan humaniora (Basrowi & Suwandi, hal. 24-25). Orang-orang yang bergerak di bidang itu dituntut untuk terjun mempraktikkan suatu tindakan atau perlakuan di lapangan. Mereka berarti langsung mempraktikkan tindakan yang telah direncanakan dan mengukur kelayakan tindakan yang diberikan tersebut. Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka (Sanjaya, hal. 24). Dalam hal ini, penelitian tindakan memiliki kawasan yang lebih luas daripada PTK. Penelitian tindakan diterapkan di berbagai bidang ilmu di luar pendidikan, misalnya dalam kegiatan praktik bidang kedokteran, manajemen, dan industri (Basrowi & Suwandi, hal. 25). Bila penelitian tindakan yang berkaitan pada bidang pendidikan dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas, maka penelitian tindakan tindakan ini disebut PTK.

TUJUAN PTK
Tujuan PTK adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah (Muslich, hal. 10). Menurut Suyanto (1997), tujuan PTK adalah meningkatkan dan/atau memperbaiki praktik pembelajaran di sekolah, meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan (Basrowi & Suwandi, hal. 54)

PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PTK bukan hanya bertujuan mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan siswa dalam mempelajari pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Atas dasar itu, terdapat tiga hal penting dalam pelaksanaan PTK yakni sebagai berikut.
(1)    PTK adalah penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan.
(2)    Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran, evaluasi) dilakukan berdasar- kan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
(3)    Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran).
Pembahasan berikutnya akan menguraikan prosedur pelaksanaan PTK yang meliputi penetapan fokus permasalahan, perencanaan tindakan, pelak- sanaan tindakan yang diikuti dengan kegiatan observasi, interpretasi, dan analisis, serta refleksi. Apabila diperlukan, pata tahap selanjutnya disusun rencana tinda lanjut. Upaya tersebut dilakukan secara berdaur membentuk suatu siklus. Langkah-langkah pokok yang ditempuh pada siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya adalah sebagai berikut.
(1)     Penetapan fokus permasalahan
(2)     Perencanaan tindakan
(3)     Pelaksanaan tindakan
(4)     Pengumpulan data (pengamatan/observasi)
(5)     Refleksi (analisis, dan interpretasi)
(6)     Perencanaan tindak lanjut.
Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri atas empat kegiatan. Apabila sudah diketahui keberhasilan atau hambatan dalam tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahan baru untuk menentukan rancangan siklus berikutnya. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan, atau untuk menguatkan hasil. Tetapi pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus sebelumnya.
Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, peneliti dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan peneliti belum merasa puas, dapat dilanjutkan pada siklus ketiga, yang tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus.

  
Problem:
berikan pendapatmu jika ptk diterapkan d sekolah terutama pada pelajaran kimia, apa inovasi ptk yang kamu lakukan?

Minggu, 14 Mei 2017

Diagnosis dan Tindakan Klinis Mengatasi Kesulitan Siswa Yang Malas Belajar Kimia




A. Belajar
1. Pengertian Belajar
Menurut Slameto (1995:2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu.

B. Kesulitan Belajar
1. Pengertian Kesulitan
dalam Belajar Kesulitan belajar adalah kondisi proses belajar yang ditandai hambatanhambatan tertentu untuk mencapai hail belajar (Ahmadi,1990:68). Kesulitan dalam belajar adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar Menurut Slameto (2003 : 54), faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar ada dua, yaitu :
a. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar. Faktor intern dibagi menjadi beberapa faktor, yaitu :
1) Jasmani, yang terdiri dari faktor :
a) cacat tubuh atau adanya susunan saraf yang tidak berkembang secara sempurna.
b) Mempunyai penyakit yang sifatnya menahun yang dapat menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.
c) Kelemahan pada unsur pancaindera (misalnya mata/telinga yang tidak sempurna/cacat) yang dapat mengganggu interaksi dalam proses pembelajaran.
2) Psikologis dan mental, yang terdiri dari faktor:
a) inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
b) Tingkat kecerdasan rendah.
c) Aktivitas yang tidak terarah,kurang semangat,kurang menguasai ketrampilan.
3) Emosional dan kebiasaan sikap yang salah, terdiri dari faktor :
a) Terdapatnya rasa tidak aman (insecurity).
b) Penyesuaian yang salah terhadap orang – orang.
c) Kurang menaruh minat terhadap pekerjaan sekolah.
d) Malas dan tidak mau belajar.
e) Sering tidak mengkuti pelajaran (bolos).
f) Banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang aktivitas sekolah.

b. Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Fak. ekstern dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu :
a. Faktor Keluarga, yang meliputi: 1) cara orang tua mendidik 2) relasi antara anggota keluarga 3) suasana rumah 4) keadaan ekonomi keluarga, 5) pengertian orang tua latar 6) besar kecilnya anggota keluarga 7) Tradisi dan kultur keluarga 8) Ketrentaman dan keamanan sosio-psikologis.
b. Faktor Sekolah, yang meliputi: 1) Kelemahan dari sistem belajar mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan. 2) Kurikulum yang seragam, buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan individu. 3) Relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa. 4) Terlalu sering pindah sekolah atau tinggal kelas. 5) Terlalu berat beban belajar (siswa) dan atau mengjar (guru). 6) Ketidaksesuaian sistem pengajaran 7) Terlalu besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan diluar. 8) disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c. Masyarakat, yang meliputi: 1) kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. 2) Pengaruh kelompok pergaulan yang tidak edukatif dan merusak moral siswa. 3. Klasifikasi kesulitan belajar Kesulitan belajar merupakan kelompok kesulitan yang heterogen, sehingga sulit untuk diklasifikasikan secara spesifik.
Namun demikian, pengklasifikasian itu diperlukan dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Kirk dan Gallagher (1989 : 187) menjelaskan bahwa kesulitan belajar dibedakan dalam kategori besar, yaitu : a. kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities). b. Kesulitan belajar akademik
4. Karakteristik Siswa Berkesulitan Belajar Seperti telah dijelaskan, murid yang mengalami kesulitan belajar itu memiliki hambatan-hambatan, sehingga menampakkan gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain (guru, pembimbing). Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar. Misalnya:
a. Menunujukkan prestasi rendah yang dicapai oleh kelompok kelas,
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah,
c. Lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam semua hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal dalam menyelesaikan tugas-tugas,
d. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti: acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain,
e. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan,
f. Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah,
g. Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.



Problem  :
Menurut teman teman bagaimana cara yang ampuh dilakukan agar siswa kembali semangat dalam belajar kimia,dan menjadi kan kimia pelajaran favorit?  ^^






Kamis, 04 Mei 2017





TEKNIK-TEKNIK MEMBELAJARKAN MATERI KIMIA

PADA FASE PENDAHULUAN DAN FASE PENUTUP



Guru harus mempunyai beberapa ketrampilan bagaimana cara membuka dan menutup pelajaran agar nantinya suasana kelas mampu berjalan dengan baik.

Membuka Pelajaran (set induction) adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pengajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengalaman yang disajikan sehingga materi dan bahan pelajaran mudah dikuasai. Dengan kata lain, membuka pelajaran itu adalah mempersiapkan mental dan perhatian siswa agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. 




Dalam otak setiap siswa itu sudah tersedia file - file sesuai dengan pengalaman masing-masing. Suatu materi pelajaran baru akan mudah diterima di otak kita, manakala sudah tersedia kapling yang relevan. Demikian juga sebaliknya, materi pelajaran baru tidak mungkin mudah dicerna manakala behan tersedia File yang relevan. Sama halnya dengan kerja sebuah komputer, kita akan sulit memasukkan data seandainya belum tersedia filenya. Oleh sebab itu agar data itu masuk dan dapat disimpan dahulu perlu disiapkan filenya. Misalnya teori tentang pesawat terbang, akan sulit diterima manakala diberikan kepada mahasiswa yang belum mengenal teori tersebut, oleh karena di otak mahasiswa itu belum tersedia file tentang teori pesawat terbang. Nah, bagaimana agar materi itu mudah diterima? Tentu saja kita harus membuat file (kapling) tentang hal-hal yang berhubungan dengan pesawat terbang. lnitah makna dari membuka pelajaran.

Tujuan dan Teknik Membuka Pelajaran 
Ada kewajiban disini yang kadang dilupakan oleh seorang guru yaitu berdoa sebelum membuka pelajaran. Berdoa adalah awalan yang wajib dilakukan agar system pelajaran dalam kelas berjalan lancar.  Dilanjutkan dengan salam kemudian menyampaikan apa kabar kepada seluruh murid atau anggota kelas. Motivasi siswa yang terpancar dari awal merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Jangan membuat tegang murid adapun jika ingin menyampaikan pertannyaan susunlah sebelumnya sebuah pertanyaan yang ringan-ringan saja. sebab rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran. pada tahap ini, guru harus mampu menumbuhkan motivasi yang baik di didalam kelas.
1. Menarik perhatian siswa, yang dapat dilakukan dengan : 
§     Meyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk siswa 
§     Melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa misalnya dengan menggunakan alat bantu 
§     Melakukan interaksi yang menyenangkan 

2. Menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan 
§     Membangun suasana alcrab sehingga siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomunikasi secara kekeluargaan. 
§     Menimbulkan rasa ingin tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan. 
§     Mengaitkan materi yang akan dibicarakan atau pengalaman belajar yang akan dilakukan dengan kebutuhan siswa. 
3. Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pengajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan: 
§     Mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan. 
§     Menjelaskan langah-langkah atau tahapan pengajaran, sehingga siswa memahami apa yang harus dilakukan. 
§     Menjelaskan target atau kemampuan yang harus dirniliki setelah pengajaran berlangsung. 

4. Faktor penting lainnya :
§     Mengaitkan Pelajaran dalam kehidupan sehari-hari : Guru selalu berusaha mengaitkan isi materi pelajaran dengan kehidupan sehari - hari siswa, tentu hal ini akan membuat pembelajaran lebih konkrit dan hidup, sehingga mempermudah pemahaman siswa
§     Memberikan Pujian : Memberikan pujian kepada murid juga dapat membangkitkan motivasi murid. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
§     Menampakan Mimik wajah yang ramah : Mimik wajah yang ramah dan tidak cemberut atau tidak memalingkan muka kepada murid menjadi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru agar murid merasa lebih lega dan tidak merasa canggung serta membagkitkan suasana kelas yan lebih menyenangkan.Memahami kapabilitas murid : Salah satu yang menjadi tantangan seorang guru adalah membantu siswa memahami relevansi atau aplikasi praktis dari tugas - tugas pembelajaran yang diberikan. Selain itu yang tidak kalah penting adalah bahwa tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan kapabilitas mereka. Jika tugas yang diberikan terlalu sulit atau terlalu mudah, mereka mungkin meakan menghindarinya karena mereka bias saja dibuat pusing atau justru bosan (Pintrich & Schunk, 2002)
§     Faktor kebersamaan : Peran penting guru yang lain adalah meyakinkan pada siswa bahwa kita terlibat bersama mereka disetiap tantangan dan berada “dalam sudut mereka” disetiap saat. Hal ini tentu saja membutuhkan strategi strategi organisasional dan personal yang fokus pada nilai dan kekuatan motivasi intrinsik dan dampak positifnya pada prestasi akademik siswa.

Sebagaimana cara kerja komputer, manakala kila sudah memasukan data dalam sebuah file, maka sebelum mengakhiri pekerjaan kita harus menyimpan dengan cara menyimpan data tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar data tersebut akan menjadi bagian dari materi yang telah ada sebelumnya. Demikian juga halnya dengan menutup pelajaran. Menutup pelajaran perlu dilakukan agar pengalaman belajar serta materi pelajaran yang telah diterima akan menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman siswa. Menutup pelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya denuan pengalaman sebelumnya mengetahui tingkat keberhasilan siswa, serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pengajaran.
§     Merangkum atau membuat garis-garis besar persoalan yang baru dibahas, sehingga siswa memperolch gambaran yang menyeluruh dan jelas tentang pokok-pokok persoalan. 
§     Mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok agar infomiasi yang telah diterima dapat membangkitkan minat untuk mempelajari lebih lanjut. 
§     Mengorganisasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk membentuk pemahaman baru tentang materi yang telah dipelajarinya 
§     Memberikan tindak lanjut serta saran-saran untuk memperluas wawasan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah dibahas.
§     Menutup dengan salam dan do'a.



Problem :

Bagaimana menurut teman-teman , teknik membuka pelajaran seperti apa yang dapat membuat siswa termotivasi dan semangat mengikuti pelajaran di kelas, 
juga teknik menutup pelajaran seperti apa , sehingga membuat anak atau peserta didik ingin lagi belajar, atau pelajaran yang disampaikan hari itu terkesan bermakna?