Kamis, 30 Maret 2017

INOVASI DALAM PEMBELAJARAN kIMIA DI SEKOLAH


Inovasi adalah suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Definisi Inovasi menurut Para Ahli
§     Everett M. Rogers (1983), Mendefisisikan bahwa inovasi adalah suatu ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi.
§     Stephen Robbins (1994), Mendefinisikan, inovasi sebagai suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa.

Berdasarkan pengertian tersebut, Robbins lebih memfokuskan pada tiga hal utama yaitu:
1.  Gagasan baru yaitu suatu olah pikir dalam mengamati suatu fenomena yang sedang terjadi, termasuk dalam bidang pendidikan, gagasan baru ini dapat berupa penemuan dari suatu gagasan pemikiran, Ide, sistem sampai pada kemungkinan gagasan yang mengkristal.
2.  Produk dan jasa yaitu hasil langkah lanjutan dari adanya gagasan baru yang ditindak lanjuti dengan berbagai aktivitas, kajian, penelitian dan percobaan sehingga melahirkan konsep yang lebih konkret dalam bentuk produk dan jasa yang siap dikembangkan dan dimplementasikan termasuk hasil inovasi dibidang pendidikan.
3. Upaya perbaikan yaitu usaha sistematis untuk melakukan penyempurnaan dan melakukan perbaikan (improvement) yang terus menerus sehingga buah inovasi itu dapat dirasakan manfaatnya.

Inovasi mempunyai 4 (empat) ciri yaitu :
1.  Memiliki kekhasan / khusus artinya suatu inovasi memiliki ciri yang khas dalam arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan.
2. Memiliki ciri atau unsur kebaruan, dalam arti suatu inovasi harus memiliki karakteristik sebagai sebuah karya dan buah pemikiran yang memiliki kadar Orsinalitas dan kebaruan.
3. Program inovasi dilaksanakan melalui program yang terencana, dalam arti bahwa suatu inovasi dilakukan melalui suatu proses yang yang tidak tergesa-gesa, namun keg-inovasi dipersiapkan secara matang dengan program yang jelas dan direncanakan terlebih dahulu.
4. Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan, program inovasi yang dilakukan harus memiliki arah yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

Sifat Perubahan Dalam Inovasi Ada 6 Kelompok Yaitu

1.     Penggantian (substitution)

Misalnya : Inovasi dalam penggantian jenis sekolah, penggantian bentuk perabotan, alat-alat atau sistem ujian yang lama diganti dengan yang baru.

2. Perubahan (alternation)

Misalnya : Mengubah tugas guru yang tadinya hanya bertugas mengajar, ditambah dengan tugas menjadi guru pembimbing dan penyuluhan / mengubah kurikulum sekolah yang semula bercorak teoretis akademis menjadi kurikulum dan mata pelajaran yang berorientasi bernuansa keterampilan hidup praktis.

3. Penambahan (addition)

Misalnya : Adanya pengenalan cara penyusunan dan analisis item tes objektif di kalangan guru sekolah dasar dengan tidak mengganti atau mengubah cara-cara penilaian yang sudah ada.

4. Penyusunan kembali (restructturing)

Misalnya : Upaya menyusun kembali susunan peralatan, menyusun kembali komposisi serta ukuran dan daya tampung kelas, menyusun kembali urutan mata-mata pelajaran / keseluruhan sistem pengajaran, sistem kepangkatan, sistem pembinaan karier baik untuk tenaga edukatif maupun tenaga administratif, teknisi, dalam upaya perkembangan keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem pendidikan.

5. Penghapusan (elimination)

Contohnya : Upaya menghapus mata-mata pelajaran tertentu seperti mata pelajaran menulis halus, atau menghapus kebiasaan untuk senantiasa berpakaian seragam

6. Penguatan (reinforcement)

Misalnya : Upaya peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga dan fasilitas sehingga berfungsi secara optimal dalam permudahan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.




Pembelajaran kimia yang seharusnya dilakukan di SMA 

Pelajaran kimia merupakan salah satu pelajaran yang memiliki karakteristik tersendiri dan memerlukan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah ilmu kimia yang berupa teori, konsep, hukum, dan fakta. Salah satu tujuan pembelajaran ilmu kimia di SMA adalah agar siswa memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitanya serta penerapanya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun teknologi. Oleh sebab itu, siswa diharapkan mampu memahami dan menguasai konsep-konsep kimia. Dan diantaranya ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal kimia.Dan untuk mengatasi kesulitan–kesulitan siswa tersebut dalam mengerjakan soal-soal kimia maka dapat kita terapkan metode pembelajaran yang tepat, yang sesuai dengan situasi dan materi yang akan disampaikan agar pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien dengan membuat siswa aktif, lebih banyak berpikir, mudah berinteraksi dengan guru maupun dengan temannya, serta mampu mengemukakan pendapatnya maupun menanggapi pertanyaan dan bekerjasama dengan teman.


Tugas

Bentuk Kearifan Lokal Etnokimia di  Bumi Pusako Betuah Negeri Jambi

Desa Nyogan SD Sugandi 


Etnosains sebagai sebuah pengetahuan yang terakumulasi dari pengalaman masing-masing etnik, bukan sebagai bentuk fisik. Kajian etnosain lebih kepada kajian perilaku manusia terhadap lingkungan yang berupa benda yang di pandang melalui aspek budaya dan persepsi masyarakat lokal dengan menggunakan bahasa lokal.
Pendapat lain dikemukakan oleh W.H Goodenough dalam Ahimsa (1964) tentang definisi konsep Etnosains, yakni: “Konsep etnosains mengacu pada paradigma kebudayaan yang menyatakan bahwa kebudayaan tidak berwujud fisik tapi berupa pengetahuan yang ada pada manah manusia. Etnosains banyak mengkaji klasifikasi untuk mengetahui struktur yang digunakan untuk mengatur lingkungan dan apa yang dianggap penting oleh suatu etnik, penduduk suatu kebudayaan. Setiap suku bangsa membuat klasisfikasi yang beda atas lingkungan nya dan hal ini tercermin pula pada katakata atau leksikonyang mengacu benda, hal, kegiatan bahkan juga struktur sintaksis yang diperlukan untuk memprensentasikan pengalaman yang berbeda, unik”.

Pendekatan dalam Etnosains
Dalam studi etnosains terdapat dua pendekatan yang saling berkomparasi, pendekatan tersebut ialah:
a.    Pendekatan Prosesual
Vayda dalam Yunita (1999) mengemukakan bahwa untuk membentuk suatu proses, harus ada suatu peristiwa-periatiwa yang saling terkait satu sama lain secara berkesinambungan yang diamini juga oleh Moore dalam Yunita(1999) dengan pendapat tentang rangkaian peristiwa-peristiwa dan tindakan-tindakan manusia berakumulasi membentuk suatu proses. Dari pendapat para antropolog ini kita dapat menjabarkan, bahwasannya ragkain peristiwa yang dapat diamati dan melibatkan tindakan manusia dapat merupakan peristiwa yang menyumbang pada pengalihan, penciptaan, pemproduksian atau pentaransformasian budaya (termasuk lingkungan di dalamnya). Kasus pembentukan pengetahuan dikalangan para petambak merupakan salah satu kasus untuk menunjukan bagaimana proses pembentukan itu berlangsung dari hari-ke hari, musim- ke musim, melalui rangkain peristiwa tindakan para petambak dalam mensiasati berbagai kesempatan, kendala dan ancaman merekayasa lingkungan bagi kelangsungan hidup mereka.
b.   Pendekatan Ekologi
Bibit pendekatan ini telah ditanamkan sejak 1930 0leh Julian H. Steward dalam esai yang berjudul “The Economics and Sosial Basis of Primitive Bonds”, dalam esai inilah Steward pertama kali menyatakan tentang “interaksi budaya dan lingkungan dapat dianalisis dalam kerangka sebab-akibat” melalui sebuah perspektif ekologi budaya. Pendapat Steward di lanjutkan Murphy dalam Heddy (1994) yang mengatakan titik perhatian dari perspektif ini adalah analisis struktur sosial dan kebudayaan. Perhatian baru diarahkan pada lingkungan bilamana lingkungan mempengaruhi atau menentukan tingkahlaku atau organisasi kerja. Perspektif ini menegaskan bahwa penyesuaian berbagai masyarakat pada lingkungannya memerlukan bentuk-bentuk perilaku tertentu, perilaku-perilaku ini berfungsi sebagai proses adaptasi terhadap lingkungannya dan tunduk pada suatu sistem seleksi. Sebagai contoh bentuk adaptasi masyarakat dan lingkungan adalah perilaku penyesuaian kegiatan ekonomi paga petambak dan petani dipengaruhi oleh situasi lingkungan yang berbeda
Etnokimia (ethnochemistry) adalah studi kimia dari sudut pandang budaya : Bagaimana kimia itu telah membentuk sebuah kebudayaan dan bagaimana kebudayaan turut berkonstribusi pada ilmu pengetahuan dan perubahannya. 
Informasi mengenai etnokimia ini dapat diperoleh salah satunya dari eksplorasi penggunaan tanaman (flora), baik sebagai pangan ataupun obat-obatan. Studi etnokimia menggabungkan pemahaman turun-temurun di masyarakat (opini) dengan ilmu sains (fakta ilmiah) mengenai efektivitas tanaman-tanaman tersebut yang dianggap berperan sebagai obat maupun bahan aditif pangan berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman serta peran dari senyawa kimia tersebut. Melalui studi lebih lanjut etnokimia ini maka akan dapat memperluas pemahaman sains yang berkaitan dengan kebudayaan.

Kearifan Suku Anak Dalam Sebagaimana suku-suku terasing lainnya di Indonesia, Suku Anak Dalam yang selama hidupnya dan segala aktifitas dilakukan di hutan, juga memiliki budaya dan kearifan yang khas dalam mengelola sumberdaya alam. Hutan, bagi mereka merupakan harta yang tidak ternilai harganya, tempat mereka hidup, beranak pinak, sumber pangan, sampai pada tempat dilakukannya adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Salah satu kearifan lokal Suku anak dalam adalah dalam hal meramu. Meramu adalah aktifitas “orang rimba” mencari berbagai jenis tanaman, baik tanaman obatobatan, untuk dikonsumsi, maupun dijual ke desa sekitar hutan. Tanaman yang digunakan untuk konsumsi seperti gadung (gedung) dan umbi-umbian. Tanaman yang untuk obat-obatan seperti pasak bumi (sempedu tono). Meramu juga dilakukan dengan cara mengambil atau mencari madu dalam kurun waktu satu sampai dua tahun sekali. Flora rimba sangat banyak menyimpan puluhan jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Beberapa diantaranya adalah tumbuhan bedaro putih, pulai, kayu selusuh, pinang, petaling dan petai. Khasiatnya macam-macam dan telah dipergunakan oleh Suku Anak Dalam sejak lama sebagai pengobatan tradisional mereka. Selain memiliki keariflokal dalam pengobatan, suku anak dalam juga memiliki kearifan lokal dalam bidang menganyam. Suku Anak Dalam selain terkenal dengan warisan budayanya yang eksotis, juga sangat terkenal dengan potensi menganyam. Suku anak dalam memiliki kemampuan memanfaatkan hasil hutan non kayu sebagai alat pemenuh kebutuhan, seperti ambung yang terbuat dari bahan dasar rotan serta menganyam daun rumbai menjadi tikar merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang dimiliki oleh Suku Anak Dalam, yakni nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal berupa tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup (Pikiran dalam Rakyat, 2004 dalam Handayani, 2009).
Rimba tempat hidup dan kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) menyimpan puluhan jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Khasiatnya macam-macam dan telah dipergunakan oleh Suku Anak Dalam sejak lama sebagai pengobatan tradisional mereka. Dibawah ini adalah tabel identifikasi tanaman obat yang telah diteliti oleh Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Pusat Penelitian IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi pada tahun 1999 di daerah Sungai Keruh dan Sungai Serdang.
Tabel 1. Jenis Tumbuhan Obat-obatan yang dimanfaatkan Orang Rimbo Sungai Keruh dan Sungai Serdang.
Selain itu, penelitian juga telah dilakukan oleh tim Fakultas Kehutanan IPB Bogor mengenai khasiat-khasiat dari tumbuhan obat Suku Anak Dalam (SAD) di daerah Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNDB). Berikut jenis tanaman potensial di Taman Nasional Bukit Dua Belas sebagai bahan obat-obatan.
Tabel 2. Jenis Tanaman Potensial di Taman Nasional Bukit Dua Belas Sebagai Bahan Obat


Hasil penelitian pada tahun 1998 menemukan sekitar 137 jenis biota medika yang terdiri dari 101 jenis tumbuhan obat, 27 jenis cendawan obat dan 9 jenis hewan obat yang dimanfaatkan oleh Suku Anak Dalam. Demplot tanaman obat merupakan unit pengembangan tanaman obat dimana jenis tanaman yang dapat dijadikan obat herbal dengan pengelolaan secara tradisional oleh Suku anak dalam. Saat ini dikelola oleh Balai TNBD guna memberikan informasi kepada wisatawan yang datang tentang jenisjenis tanaman obat yang terdapat di kawasan tersebut. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan serta pendidikan tentang tanaman obat-obatan yang merupakan salah satu potensi kawasan TNBD.

Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan warga suku anak dalam Cik Yam yang tinggal di kawasan Dusun III Senami Jebak. Ditemukan juga tanaman obat-obatan suku anak dalam untuk kawasan Taman Hutan Raya Senami, Kabupaten Batanghari. Berikut ini tanaman obat yang telah kami identifikasi.
1. Buah Bulian. Berkhasiat untuk mengobati penyakit gatal-gatal, bisul, bengkak, dan lain sebagainya.
2. Sidaguri. Berkhasiat untuk mengobati rematik, perut mulas, abortivum.
3. Meniran. Berkhasiat untuk mengobati penyakit hepatitis, rabun senja, rematik.
4. Rumput Mutiara. Berkhasiat untuk mengobati sumbatan saluran sperma, penyakit radang pinggul dan infeksi saluran kemih.
5. Ketepeng Kecil. Berkhasiat untuk mengobati radang mata merah, luka kornea, rabun senja, glukoma, tekanan darah tinggi, hepatitis, sirosis, perut busung air, sulit buang air.
6. Senduduk. Berkhasiat untuk mengobati sariawan, keputihan, pendarahan rahim






Problem :
Coba teman teman berikan satu contoh inovasi dalam pembelajaran kimia di kelas, agar anak yang malas dalam belajar kimia akan menjadi tertarik dan suka dengan pelajarannya J

Berikan komentarmu dikolom yaa